KabarCiepat.com || HAURWANGI, CIANJUR — Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya stabil dan daya beli yang terus berfluktuasi, Pasar Minggu atau Car Free Day (CFD) Haurwangi kecamatan Haurwangi kab. Cianjur— yang populer disebut CFD Hawai—justru masih mampu bertahan.
Sejak bergulir pada 2020 hingga Minggu, 30 Agustus 2026, kegiatan yang menjadi ruang berkumpul sekaligus ruang ekonomi masyarakat tersebut tetap menggeliat.
Bertahannya CFD Haurwangi tentu bukan tanpa tantangan. Selain menghadapi dinamika ekonomi dan naik-turunnya daya beli masyarakat, kegiatan ini juga mengalami perubahan kepengurusan setelah salah satu pengurus lama, Alm. H. Mansur alias Wa Acuy, meninggal dunia.
Namun, roda kegiatan tidak berhenti.
Di bawah kepengurusan baru yang dipimpin Deden Setia Hamzah, CFD Hawai mencoba bangkit dengan pola pengelolaan yang lebih adaptif dan inovatif. Orientasinya tidak semata-mata mengejar keramaian, tetapi juga bagaimana kegiatan tersebut mampu menjadi ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat dan UMKM lokal.
Masyarakat RW 01 Desa Haurwangi menjadi salah satu basis utama kegiatan. Namun geliat perdagangan tidak berhenti di satu wilayah. Pelaku UMKM dari RW lainnya, termasuk masyarakat Desa Ramasari dan Desa Kertasari, turut mengambil bagian dalam denyut ekonomi Pasar Minggu tersebut.
BUKAN SEKADAR CFD, TAPI RUANG EKONOMI RAKYAT
CFD Hawai perlahan menunjukkan bahwa kegiatan masyarakat bisa menjadi instrumen sederhana untuk menggerakkan ekonomi lokal.
Warga datang bukan hanya untuk berolahraga atau menikmati suasana Minggu pagi, tetapi juga melakukan transaksi. Pedagang mendapatkan ruang berjualan, sementara masyarakat mendapatkan pilihan untuk memenuhi kebutuhan sekaligus menikmati hiburan di lingkungan sendiri.
Di sinilah keberadaan CFD Haurwangi menjadi penting.
Ketika daya beli masyarakat sedang fluktuatif, keberadaan pasar rakyat seperti ini menjadi salah satu ruang yang mempertemukan penjual, pembeli, pelaku UMKM, dan masyarakat dalam satu ekosistem ekonomi lokal.
Di sisi lain, geliat ekonomi masyarakat Haurwangi juga bersinggungan dengan mulai berjalannya Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Desa Haurwangi, yang mulai memberikan layanan kepada anggotanya melalui penyediaan sejumlah kebutuhan pokok, termasuk beras premium Bulog dan minyak goreng dengan harga terjangkau sesuai program yang dijalankan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat di Haurwangi mulai memiliki berbagai simpul, baik melalui UMKM, pasar rakyat maupun kelembagaan ekonomi desa.
REGENERASI MENJADI UJIAN
Bertahannya CFD Hawai selama enam tahun lebih juga menjadi ujian bagi pengelolanya.
Pergantian figur dan kepengurusan merupakan bagian dari dinamika sebuah kegiatan masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana semangat para pengurus terdahulu tetap dipertahankan, tetapi pada saat yang sama pengelolaan mampu mengikuti perubahan zaman.
Kepengurusan Deden Setia Hamzah kini dituntut bukan hanya menjaga agar CFD tetap ramai, tetapi juga memastikan keberadaannya benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Sebab, ukuran keberhasilan Pasar Minggu bukan hanya seberapa banyak orang datang.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: seberapa besar perputaran ekonomi yang terjadi dan seberapa banyak UMKM lokal yang mendapatkan manfaat?
“WISATA BELANJA DI TEMPAT SENDIRI”
Bagi masyarakat Haurwangi dan sekitarnya, CFD Hawai seolah telah menjadi agenda rutin setiap akhir pekan.
Keramaian, jajanan, aktivitas warga dan transaksi ekonomi bercampur menjadi satu. Masyarakat dapat menikmati suasana libur sekaligus berbelanja tanpa harus pergi jauh ke pusat kota.
Konsep sederhana tersebut melahirkan semangat “wisata belanja di tempat sendiri.”
Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, keberadaan ruang ekonomi seperti CFD Haurwangi menjadi sesuatu yang patut dipertahankan.
Pasar Minggu Haurwangi telah membuktikan bahwa ketika masyarakat diberi ruang, UMKM diberi kesempatan dan pengelola terus berinovasi, aktivitas ekonomi rakyat masih bisa bergerak.
CFD Hawai boleh dihantam krisis, boleh kehilangan pengurus lama, dan boleh menghadapi pasang-surut daya beli. Tetapi selama masyarakat masih datang dan UMKM masih berjualan, Pasar Minggu Haurwangi belum kehilangan denyut kehidupannya. ***KH.E
KABAR CIEPAT — Menyoroti, Mengawal, dan Memberitakan dari Masyarakat.






0 comments:
Posting Komentar