KabarCiepat.com || CIRANJANG — Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Sabtu (15/8/2026), tidak hanya diwarnai kemeriahan jalan santai. Di tengah suasana perayaan, Komunitas KOPIMU justru membawa pesan kritik sosial yang menyengat.
Mengikuti jalan santai yang digelar Pemerintah Kecamatan Ciranjang di Desa Kertajaya, sejumlah anggota KOPIMU tampil mengenakan kostum bertema “Tikus-Tikus Kantor”. Kostum tersebut menggambarkan simbol pejabat korup hingga kelompok berkekuatan ekonomi dan politik yang kerap diasosiasikan dengan praktik penyalahgunaan kekuasaan.
Aksi teatrikal itu sontak menjadi perhatian peserta dan warga. Di balik kemeriahan HUT RI, KOPIMU ingin mengingatkan bahwa persoalan korupsi masih menjadi pekerjaan besar yang tidak boleh ditutup-tutupi.
Ketua KOPIMU, Agus Setiawan, mengatakan pemilihan tema “Tikus-Tikus Kantor” sengaja dilakukan sebagai bentuk kritik terhadap praktik korupsi dan penyalahgunaan kewenangan yang menurutnya masih terjadi di berbagai tingkatan pemerintahan.
«“Kami sengaja memilih kostum ini karena masyarakat sudah sangat muak dengan ulah para oknum pejabat korup, mulai dari tingkat pusat hingga pemerintahan desa,” ujar Agus di sela kegiatan.»
Menurut Agus, kritik tersebut tidak diarahkan kepada institusi tertentu secara keseluruhan, melainkan kepada oknum yang menyalahgunakan jabatan dan kewenangannya.
Ia menilai pejabat publik, aparat penegak hukum maupun pimpinan lembaga yang diberi amanah seharusnya menjadi contoh dalam menjalankan pemerintahan yang bersih dan berintegritas.
“Jangan sampai mereka yang seharusnya memberikan teladan justru terseret persoalan korupsi. Masyarakat sekarang semakin kritis dan berhak mempertanyakan bagaimana kekuasaan digunakan,” tegasnya.
Kemerdekaan Bukan Alasan Menutup Mata
Bagi KOPIMU, peringatan kemerdekaan bukan sekadar seremoni, lomba, ataupun jalan santai. Momentum 17 Agustus dinilai harus menjadi ruang untuk kembali mengingat pengorbanan para pahlawan sekaligus mengkritisi berbagai persoalan bangsa.
Agus mengingatkan, kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjuangan panjang yang mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawa.
“Para pahlawan berjuang untuk kemerdekaan. Jangan sampai kemerdekaan yang sudah diperjuangkan dengan darah dan air mata justru dikhianati oleh orang-orang yang menyalahgunakan jabatan untuk memperkaya diri,” katanya.
Karena itu, KOPIMU mendorong pemberantasan korupsi dilakukan secara serius, transparan, dan tidak tebang pilih.
Dorong Hukuman Berat dan Penyitaan Aset
KOPIMU juga menyuarakan tuntutan keras terhadap pelaku tindak pidana korupsi.
Mereka mendukung pemberian sanksi maksimal sesuai ketentuan hukum bagi pelaku korupsi yang terbukti merugikan negara. KOPIMU juga mendorong pengembalian kerugian negara melalui penyitaan dan perampasan aset hasil tindak pidana korupsi sesuai mekanisme hukum yang berlaku.
Agus menilai hukuman terhadap koruptor harus mampu memberikan efek jera sekaligus memastikan keuntungan yang diperoleh dari kejahatan tersebut tidak tetap dinikmati pelaku maupun pihak yang terkait.
“Yang kami inginkan sederhana: hukum harus tajam kepada siapa pun yang terbukti melakukan korupsi. Jangan ada tebang pilih,” ujarnya.
Kritik dari Jalanan, Pesan untuk Penguasa
Aksi KOPIMU berlangsung dalam suasana damai dan menjadi bagian dari ekspresi kritik masyarakat dalam ruang publik.
Kostum “Tikus-Tikus Kantor” akhirnya bukan sekadar tontonan di tengah jalan santai. Simbol tersebut menjadi pesan bahwa perayaan kemerdekaan seharusnya juga menjadi momentum untuk melawan praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan pengkhianatan terhadap amanah publik.
Di tengah tepuk tangan dan kemeriahan warga Desa Kertajaya, KOPIMU menyampaikan satu pesan: kemerdekaan tidak boleh hanya dirayakan, tetapi juga harus dijaga dari praktik korupsi yang menggerogoti kepercayaan masyarakat. ***Jhd






0 comments:
Posting Komentar