KabarCiepat.com || CIANJUR — Panitia Sarasehan dan Temu Kader Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) Sukasari menggelar forum silaturahmi dan dialog terbuka yang mempertemukan masyarakat, kader koperasi, tokoh masyarakat, pelaku usaha, serta sejumlah elemen terkait.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan dukungan, harapan, pertanyaan hingga kritik terhadap keberadaan Kopdes Merah Putih Sukasari maupun program pemerintah yang berkaitan langsung dengan kehidupan ekonomi warga.
Forum menegaskan bahwa keberadaan koperasi di tingkat desa diharapkan tidak sekadar menjadi program administratif, tetapi mampu memberikan manfaat nyata melalui penguatan ekonomi masyarakat, akses permodalan, ketahanan pangan, serta pengembangan usaha lokal.
KOPERASI DIMINTA LIBATKAN DAN DIAWASI MASYARAKAT
Dalam forum tersebut, Drs. Ahmad Nurizal, M.Pd., menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam keberadaan koperasi.
«“Koperasi itu melibatkan masyarakat yang berada di sekitarnya. Terima kasih ada koperasi Kopdes ya, terima kasih ada MDI, tapi juga awasi ya.”»
Menurutnya, partisipasi masyarakat diperlukan agar koperasi dapat berkembang sesuai kebutuhan warga. Sementara pengawasan menjadi bagian penting untuk memastikan pengelolaan koperasi tetap berjalan sesuai tujuan dan kepentingan masyarakat.
KOPDES SUKASARI DIHARAPKAN JADI TELADAN
Dukungan terhadap program Koperasi Desa Merah Putih juga disampaikan Unang Margana, S.H., M.H.
«“Dan tentu saja program ini harus kita dukung karena sejatinya Kopdeskel ini kan adalah untuk meningkatkan daya ketahanan pangan Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian.”»
Ia berharap Kopdes Sukasari mampu berkembang dan menjadi contoh bagi koperasi desa lainnya.
«“Koperasi Desa Merah Putih Sukasari harus menjadi teladan sekabupaten Cianjur.”»
Harapan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi pengelola koperasi untuk menunjukkan tata kelola yang baik, transparansi, pelayanan yang mudah serta manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
WARGA PERTANYAKAN AKSES PINJAMAN
Dalam sesi dialog, salah seorang warga mempertanyakan persyaratan masyarakat apabila ingin memperoleh pinjaman melalui koperasi.
«“Tolong kepada warga masyarakat diberitahukan kalau pengin pinjam ke koperasi itu syaratnya apa?”»
Warga tersebut membandingkan proses tersebut dengan pengalaman masyarakat ketika mengakses pinjaman melalui koperasi simpan pinjam atau lembaga sejenis.
«“Kalau ke Kosipa itu kita pinjam tidak bertele-tele.”»
Ia menegaskan bahwa masyarakat pada dasarnya bukan tidak mendukung program pemerintah. Namun, ketika membutuhkan pembiayaan, warga berharap prosedur yang diterapkan tetap tertib tetapi tidak menyulitkan.
Masukan tersebut menjadi catatan penting bagi pengelola Kopdes, khususnya terkait transparansi persyaratan, prosedur pembiayaan dan kemudahan akses bagi masyarakat.
WARGA MINTA KOPDES SEGERA BEROPERASI
Harapan agar koperasi segera dapat dimanfaatkan masyarakat juga disampaikan seorang warga perempuan.
«“Koperasi itu terlalu lama untuk dibukanya ya. Jadi untuk masyarakat masih mangmang gitu ya.”»
Meski demikian, ia menyatakan siap mendukung dan menjadi anggota apabila koperasi sudah dibuka.
«“Kalau buka insyaallah mendukung ikut anggota. Cepat dibuka. Cepat dibuka.”»
Warga lainnya juga meminta mekanisme keanggotaan diperjelas.
«“Aku kan belum ikutan jadi anggota. Dapat harus ke siapa? Terus diperjelas lagi.”»
Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan informasi yang lebih konkret mengenai pendaftaran anggota, persyaratan, layanan koperasi serta prosedur yang harus ditempuh.
PROGRAM MBG TURUT JADI BAHAN DIALOG
Selain Kopdes Merah Putih, forum juga membahas Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sejumlah warga memandang MBG bukan hanya sebagai program pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga sebagai peluang ekonomi bagi masyarakat dan pelaku UMKM lokal.
Salah seorang warga perempuan berharap program tersebut tetap dilanjutkan.
«“Kalau bisa MBG itu jangan diuangkan apalagi ditutup ya karena banyak yang menghasilkan dari MBG ini.”»
Namun, pandangan berbeda disampaikan warga lainnya yang menilai terdapat persoalan ketika makanan yang diberikan tidak dikonsumsi oleh anak-anak.
«“Kalau kata saya lebih baik diuangkan saja karena anak-anak banyak yang enggak dimakan, banyak yang enggak suka, banyak yang bilang bau.”»
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG masih menghadirkan pengalaman yang beragam di tengah masyarakat.
PELAKU USAHA MENGAKU OMZET NAIK 70 PERSEN
Forum juga menghadirkan pengalaman pelaku usaha yang mengaku memperoleh manfaat ekonomi setelah menjadi pemasok kebutuhan MBG melalui Desa Merah Putih.
Pelaku usaha tersebut mengatakan sebelum terlibat dalam rantai pasok MBG, kondisi pendapatannya berada di bawah rata-rata.
Namun setelah memperoleh kesempatan memasok produk berupa tahu dan tempe, ia mengaku mengalami peningkatan omzet.
«“Omset saya naik, pendapatan saya naik sekitar 70%.”»
Dampak ekonomi tersebut, menurutnya, juga berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja.
«“Sebelumnya saya belum punya karyawan. Tetapi sesudah saya menyuplai ke MBG itu saya jadi mempunyai karyawan.”»
Ia menjelaskan kesempatan tersebut diperoleh setelah mendapatkan informasi dan tawaran dari pengurus koperasi untuk memasukkan produknya ke dalam rantai pasok MBG.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa ketika program pemerintah terhubung dengan koperasi dan UMKM lokal, manfaat ekonomi berpotensi dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
PROGRAM PEMERINTAH DIMINTA BERPIHAK PADA MASYARAKAT
Sementara itu, Iman menyampaikan bahwa dukungan terhadap program pemerintah tetap harus dibarengi perhatian terhadap kualitas pelaksanaan dan keberpihakan kepada masyarakat.
«“Asalkan dengan catatan program itu harus bagus dan baik.”»
Ia berharap pelaksanaan MBG dapat melibatkan UMKM lokal sehingga program tersebut tidak hanya memberikan manfaat sosial, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.
Pandangan tersebut sejalan dengan semangat sarasehan yang mendorong koperasi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi desa.
PANITIA: INI RUANG UNTUK MENDENGAR SUARA WARGA
Menutup rangkaian dialog, Iman menyampaikan bahwa berbagai pandangan yang muncul merupakan suara masyarakat yang perlu didengar.
«“Ini curhatan mereka. Mereka ada yang mengkritisi MBG, ada yang mengkritisi KOPDES.”»
Panitia menegaskan bahwa forum tersebut bukan ruang untuk menghakimi ataupun membenturkan masyarakat dengan pemerintah. Sebaliknya, kegiatan dikemas sebagai ruang silaturahmi dan dialog agar warga dapat menyampaikan pengalaman serta pandangannya secara langsung.
DUKUNG PROGRAM, KAWAL PELAKSANAANNYA
Panitia menilai keberadaan Kopdes Merah Putih memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat desa.
Namun, peluang tersebut harus diikuti dengan keterbukaan informasi, pelayanan yang mudah dipahami, tata kelola yang baik serta keterlibatan masyarakat.
Hal serupa juga berlaku terhadap MBG. Program tersebut dinilai memiliki potensi memberikan manfaat sosial sekaligus menggerakkan perekonomian lokal. Karena itu, pengalaman dan kritik masyarakat perlu ditempatkan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki pelaksanaan program.
Panitia menegaskan bahwa mendukung program pemerintah tidak berarti menutup ruang kritik.
«“Kami ingin forum ini menjadi ruang silaturahmi, ruang mendengar, dan ruang bertukar pikiran. Ada yang mendukung, ada yang mengkritisi, dan semuanya merupakan bagian dari dinamika masyarakat yang perlu dihargai.”»
Panitia berharap dialog serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar hubungan antara masyarakat, koperasi, pelaku usaha dan pemangku kepentingan semakin terbuka dan produktif.
Dukungan diperlukan. Pengawasan juga diperlukan. Dan yang tidak kalah penting, masyarakat harus terus diberi ruang untuk bersuara.
Keterangan Media:
Panitia Sarasehan dan Temu Kader Koperasi Desa Merah Putih Sukasari
Desa Sukasari, Kabupaten Cianjur
Catatan redaksi: Kutipan warga dalam rilis ini disampaikan secara lisan dalam forum dan dipertahankan substansinya untuk menggambarkan pandangan peserta. ***Jhd






0 comments:
Posting Komentar