Kamis, 12 Februari 2026
Diduga Kembali Marak, Penjualan Obat Keras Golongan G Bebas Beredar di Cianjur
Permendikdasmen Nomor 8 Tahun 2026: Aturan Pembayaran Honor Guru dan Tenaga Kependidikan Non ASN Melalui Dana BOSP
Dirjen GTKPG: Kemendikdasmen Perkuat Tata Kelola dan Kesejahteraan Guru dalam Konsolidasi Nasional 2026
Diduga Terpeleset Saat Memulung, Seorang Pria Ditemukan Tewas di TPA Sarimukti
Rabu, 11 Februari 2026
Ribuan Guru Honorer swasta Tumpah Ruah di Jakarta : tuntut pengangkatan PPPK sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian
Jakarta, kabarciepat.com — Sejarah baru tercatat dalam gerakan profesi guru Indonesia. Empat organisasi profesi guru tingkat nasional, yakni PB PGMM di bawah kepemimpinan Kang Tedi Malik, PB PGSI yang dipimpin Pak Muhammad Zain, PB PGIN dengan ketua umum Haji Hadi Sutikno, serta PB PGMNI yang diketuai Haji Heri Purnama, berhasil mengerahkan massa dalam jumlah luar biasa untuk menyuarakan aspirasi guru madrasah swasta. Rabu, 11/02/2026
Gerakan ini bukan sekadar aksi, melainkan simbol persatuan. Jarang sekali ditemukan empat organisasi profesi guru yang mampu bergerak bersama dengan visi dan misi yang sama. Kehadiran puluhan ribu guru dari berbagai daerah menjadi bukti nyata bahwa isu keadilan dan hak yang sama bagi guru madrasah swasta adalah suara bersama yang tak bisa diabaikan.
Meski sejumlah media hanya menuliskan angka ribuan, bahkan ada yang menyebut ratusan, fakta di lapangan menunjukkan lautan manusia yang tumpah ruah di Jakarta. Rekaman video dari media elektronik, media sosial, dan liputan langsung memperlihatkan jelas bahwa massa yang hadir mencapai puluhan ribu orang.
Aksi damai ini menegaskan bahwa guru madrasah swasta Indonesia memiliki kekuatan kolektif yang besar, serta tekad bulat untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Persatuan empat organisasi profesi guru menjadi momentum penting dalam sejarah perjuangan pendidikan di Indonesia, membuktikan bahwa solidaritas mampu menggerakkan perubahan.
Kang Tedi Malik, Ketum PB PGMM:
"Guru madrasah swasta telah lama mengabdi tanpa kepastian status. Saatnya pemerintah memberikan keadilan dengan mengangkat mereka menjadi PPPK, agar pengabdian sejalan dengan kepastian hak."
Pak Muhammad Zain, Ketum PB PGSI:
"Kami menuntut pengakuan yang setara. Guru madrasah swasta bukan tenaga pinggiran, mereka adalah pilar pendidikan bangsa. PPPK adalah jalan keadilan."
Haji Hadi Sutikno, Ketum PB PGIN:
"Puluhan ribu guru madrasah telah menunjukkan loyalitas dan dedikasi. Negara wajib hadir dengan solusi nyata: pengangkatan PPPK sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian."
Haji Heri Purnama, Ketum PB PGMNI:
"Kami bersatu menyuarakan satu tuntutan: keadilan bagi guru madrasah swasta. PPPK bukan sekadar status, melainkan hak yang harus segera di wujudkan."
Dengan semangat kebersamaan, aksi ini menjadi tonggak perjuangan guru madrasah swasta Indonesia. Empat organisasi profesi guru telah menunjukkan bahwa ketika bersatu, suara guru akan bergema lebih kuat dan lebih berpengaruh dalam memperjuangkan keadilan. ***Red
Jumat, 06 Februari 2026
PPPK Paruh Waktu Memohon Kepastian Nasib: Jeritan Nurani Guru untuk Presiden Republik Indonesia
Subang, kabarciepat.com – Dengan penuh kerendahan hati, para guru PPPK paruh waktu di seluruh Indonesia menyampaikan suara hati mereka kepada Yang Terhormat Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto. Surat terbuka ini lahir dari ruang kelas sederhana, dari papan tulis yang mulai pudar, dan dari hati yang terluka namun tetap setia pada pendidikan bangsa. Sabtu, 7/02/2026
Jeritan Nurani Guru
Dalam surat yang ditujukan langsung kepada Presiden, para guru PPPK paruh waktu menggambarkan realitas pahit yang mereka hadapi:
- Mengajar tanpa kepastian upah, bahkan ada yang tanpa upah sama sekali.
- Pulang dengan perut kosong setelah seharian mengajar.
- Menyembunyikan air mata dari murid-murid, sambil tetap menanamkan semangat cinta tanah air.
- Bertahan dengan sepatu robek dan pakaian yang sama dari tahun ke tahun.
“Bagaimana mungkin kami mendidik generasi emas Indonesia jika nasib kami sendiri dibiarkan gelap?” tulis mereka dalam surat tersebut
Permohonan Kepada Presiden
Para guru PPPK paruh waktu menegaskan bahwa mereka tidak meminta kemewahan, melainkan hanya kepastian hidup yang manusiawi. Mereka memohon agar pemerintah:
- Melihat dan mendengar jeritan mereka.
- Memberikan kepastian pengangkatan penuh waktu sesuai regulasi.
- Menyelamatkan masa depan guru, agar pendidikan tidak mati perlahan.
Kutipan Regulasi
Salah seorang guru yang enggan disebutkan namanya menegaskan:
“Dalam Keputusan Menteri PANRB Nomor 16 Tahun 2025, khususnya Diktum ke-13, jelas disebutkan bahwa PPPK paruh waktu dapat diangkat menjadi PPPK penuh waktu setelah melalui evaluasi kinerja. Kami hanya meminta agar amanat regulasi ini benar-benar dijalankan, sehingga pengabdian kami tidak lagi dipandang sebelah mata.”
Harapan yang Rapuh
Meski cinta pada pendidikan tetap menjadi alasan mereka mengajar, para guru menegaskan bahwa cinta tidak bisa menggantikan beras, pengabdian tidak bisa membayar listrik, dan kesetiaan tidak bisa mengobati anak yang sakit. Harapan mereka kini rapuh, namun masih ada keyakinan bahwa negara tidak akan menutup mata terhadap penderitaan guru
Penutup
Surat ini ditutup dengan doa dan harapan agar Presiden Republik Indonesia mendengar suara hati para guru PPPK paruh waktu. Dari Kabupaten Subang, Jawa Barat, suara ini mewakili ribuan guru yang masih setia mengajar meski hidup dalam ketidakpastian.***red
Raker Pengurus Cabang Cipatat Program Kerja dan SIGAP
Cipatat, Bandung Barat. kabarciepat.com – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Kecamatan Cipatat menggelar Rapat Kerja Cabang (Rakercab) dengan mengusung tema “Sigap Solidaritas Guru Tanggap Bencana”. Kegiatan ini menjadi wadah konsolidasi organisasi sekaligus penguatan peran guru dalam menghadapi tantangan kebencanaan di wilayah Bandung Barat.
Dalam sambutannya, Ketua PGRI Cabang Cipatat, Bapak Endin Mahpudin, M.M.Pd, menegaskan pentingnya solidaritas dan kesiapsiagaan guru sebagai garda terdepan dalam mendidik sekaligus melindungi generasi muda. “Guru tidak hanya berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga harus sigap dan tanggap ketika bencana melanda. Solidaritas menjadi kunci agar kita mampu saling menguatkan,” ujarnya.
Rakercab ini dihadiri oleh para pengurus, PGRI Cabang Cipatat, . Agenda utama meliputi:
- Evaluasi program kerja tahun sebelumnya.
- Penyusunan rencana kerja strategis untuk tahun mendatang.
- Penguatan kapasitas guru dalam mitigasi dan respon kebencanaan.
Selain itu, forum ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, masyarakat, dan pemerintah daerah dalam membangun sistem pendidikan yang tangguh menghadapi bencana. Semangat kebersamaan yang ditunjukkan para guru diharapkan menjadi teladan bagi masyarakat luas
Dengan tema yang relevan terhadap kondisi geografis dan sosial Cipatat, Rakercab PGRI ini menegaskan komitmen guru sebagai agen perubahan yang tidak hanya mendidik, tetapi juga menjaga keselamatan dan solidaritas komunitas.***Redi R











.jpg)