kabarciepat.com || Sukabumi — Dugaan pelanggaran standar pelayanan dalam program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, kejadian di PAUD Arrahmah Abdurrahman, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, memicu polemik setelah beredarnya video permintaan maaf dari pihak dapur SPPG Sukabumi Nyalindung Mekarsari terkait menu makanan anak yang dinilai tidak layak.
Video tersebut viral di media sosial usai muncul keluhan mengenai sajian “kepala ikan cue” yang disebut terus menghiasi piring makanan anak-anak PAUD. Kondisi ini memicu reaksi keras dari masyarakat dan menjadi perhatian berbagai pihak karena dianggap mencederai tujuan utama program pemenuhan gizi bagi anak usia dini.
Dalam video klarifikasi yang beredar, Kepala Dapur SPPG Sukabumi Nyalindung Mekarsari didampingi ahli gizi dan bagian accounting menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada para penerima manfaat program MBG.
“Ucapan maaf dari saya Kepala Dapur SPPG Sukabumi Nyalindung Mekarsari. Sebelah kiri saya ahli gizi, sebelah kanan saya accounting. Di sini saya menyampaikan permohonan maaf kepada penerima manfaat kami terkait menu kami pada hari Selasa tanggal 5 Mei 2026 yang viral, yaitu menu kepala ikan,” ucapnya dalam video tersebut.
Ia menjelaskan bahwa menu tersebut disajikan akibat kesalahan dari pihak supplier yang mengirim bahan baku tidak sesuai pesanan.
“Supplier kami mengirim ikan kurang dari PO kami. Dari sekitar 295 kilogram, yang datang hanya 180 kilogram. Dikarenakan bahan baku kami dari ikan laut, kami mengambil keputusan untuk mengeksekusi menu tersebut dengan satu ekor ikan dijadikan dua potong sehingga menyebabkan kericuhan di penerima manfaat kami,” lanjutnya.
Pihak dapur juga mengakui kelalaian dalam penyajian menu dan berjanji akan melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
“Kami sekali lagi memohon maaf sebesar-besarnya kepada penerima manfaat kami atas kelalaian atau penyajian menu kami yang kurang layak. Kami berterima kasih kepada masyarakat yang sudah percaya kepada dapur kami. Semoga selanjutnya kami bisa lebih baik lagi,” tuturnya.
Meski telah ada permintaan maaf terbuka, sejumlah warga menilai kejadian ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan cerminan lemahnya pengawasan dan pelaksanaan SOP di tingkat pelaksana lapangan. Mereka menegaskan bahwa instruksi dari pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) seharusnya dijalankan secara serius dan profesional oleh seluruh jajaran SPPG di Indonesia.
“Ini menjadi alarm keras bagi seluruh SPPG. Instruksi pimpinan bukan sekadar imbauan, tetapi perintah jabatan yang memiliki konsekuensi hukum dan tanggung jawab moral,” ujar Asep Solihin ketua LSM KPK PASUNDAN Jawa Barat
Warga Nyalindung kini menunggu langkah tegas dari pihak terkait, termasuk evaluasi terhadap sistem distribusi dan pengawasan menu makanan bagi anak-anak penerima manfaat. Publik berharap pengawasan terhadap program MBG diperketat agar kualitas makanan yang diberikan benar-benar sesuai standar gizi dan kelayakan konsumsi.***Red






0 comments:
Posting Komentar