kabarciepat.com || Tasikmalaya – Kesabaran warga Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya tampaknya telah habis. Ratusan warga turun ke jalan, mendatangi dan mengepung Balai kantor desa, menuntut Kepala Desa Budi segera mundur dari jabatannya.
Aksi berlangsung dengan tensi tinggi. Massa memadati halaman kantor desa, menyuarakan tuntutan keras atas dugaan krisis etika dan minimnya transparansi dalam pengelolaan pemerintahan desa. Aparat kepolisian disiagakan di lokasi, sementara orator dari atas kendaraan komando terus menggema, menegaskan satu tuntutan: mundur. Senin, 4/5/2026
Kekecewaan warga mengalir deras. Dukungan yang dulu diberikan, kini berubah menjadi tekanan terbuka.
“Kami tidak mau dipimpin oleh orang yang tidak beretika. Dulu kami mendukung, sekarang kami kecewa,” tegas Rini, salah satu warga.
Sorotan warga mengarah pada dugaan serius: penyalahgunaan wewenang dan pengelolaan anggaran yang dinilai tidak transparan. Isu yang paling menyulut kemarahan adalah dugaan pengambilan uang tetap (siltap) milik perangkat desa.
CCTV Disebut Jadi Titik Balik
Informasi yang beredar di tengah masyarakat menyebut peristiwa tersebut diduga terjadi di lingkungan kantor desa dan terekam kamera pengawas (CCTV). Rekaman inilah yang menjadi titik balik—memicu keresahan, mempercepat penyebaran isu, hingga akhirnya meledakkan kemarahan warga.
Meski belum terkonfirmasi secara resmi, keberadaan rekaman tersebut telah menjadi pembicaraan luas dan dianggap sebagai kunci dalam polemik yang terus membesar.
Tekanan Moral Menguat
Gelombang protes tidak hanya datang dari warga. Sejumlah tokoh masyarakat dan alim ulama turut angkat suara. Mereka menilai persoalan ini telah melampaui ranah administratif dan menyentuh integritas moral seorang pemimpin.
Desakan mundur pun kian menguat.
“Sekali tercoreng dengan arang, sulit kembali bersih,” ungkap salah satu tokoh agama, mencerminkan sikap kolektif para ulama setempat.
Belum Ada Klarifikasi
Di tengah tekanan yang terus meningkat, Kepala Desa Budi belum memberikan pernyataan resmi terkait berbagai tudingan yang beredar, termasuk dugaan pengambilan siltap dan rekaman CCTV yang menjadi sorotan publik.
Ketiadaan klarifikasi dinilai memperkeruh situasi dan memperbesar gelombang ketidakpercayaan.
Warga menegaskan, aksi ini bukan yang terakhir. Jika tidak ada kejelasan dan langkah konkret, gelombang protes dipastikan akan terus berlanjut. ***Red







0 comments:
Posting Komentar