Subang, kabarciepat.com – Dengan penuh kerendahan hati, para guru PPPK paruh waktu di seluruh Indonesia menyampaikan suara hati mereka kepada Yang Terhormat Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto. Surat terbuka ini lahir dari ruang kelas sederhana, dari papan tulis yang mulai pudar, dan dari hati yang terluka namun tetap setia pada pendidikan bangsa. Sabtu, 7/02/2026
Jeritan Nurani Guru
Dalam surat yang ditujukan langsung kepada Presiden, para guru PPPK paruh waktu menggambarkan realitas pahit yang mereka hadapi:
- Mengajar tanpa kepastian upah, bahkan ada yang tanpa upah sama sekali.
- Pulang dengan perut kosong setelah seharian mengajar.
- Menyembunyikan air mata dari murid-murid, sambil tetap menanamkan semangat cinta tanah air.
- Bertahan dengan sepatu robek dan pakaian yang sama dari tahun ke tahun.
“Bagaimana mungkin kami mendidik generasi emas Indonesia jika nasib kami sendiri dibiarkan gelap?” tulis mereka dalam surat tersebut
Permohonan Kepada Presiden
Para guru PPPK paruh waktu menegaskan bahwa mereka tidak meminta kemewahan, melainkan hanya kepastian hidup yang manusiawi. Mereka memohon agar pemerintah:
- Melihat dan mendengar jeritan mereka.
- Memberikan kepastian pengangkatan penuh waktu sesuai regulasi.
- Menyelamatkan masa depan guru, agar pendidikan tidak mati perlahan.
Kutipan Regulasi
Salah seorang guru yang enggan disebutkan namanya menegaskan:
“Dalam Keputusan Menteri PANRB Nomor 16 Tahun 2025, khususnya Diktum ke-13, jelas disebutkan bahwa PPPK paruh waktu dapat diangkat menjadi PPPK penuh waktu setelah melalui evaluasi kinerja. Kami hanya meminta agar amanat regulasi ini benar-benar dijalankan, sehingga pengabdian kami tidak lagi dipandang sebelah mata.”
Harapan yang Rapuh
Meski cinta pada pendidikan tetap menjadi alasan mereka mengajar, para guru menegaskan bahwa cinta tidak bisa menggantikan beras, pengabdian tidak bisa membayar listrik, dan kesetiaan tidak bisa mengobati anak yang sakit. Harapan mereka kini rapuh, namun masih ada keyakinan bahwa negara tidak akan menutup mata terhadap penderitaan guru
Penutup
Surat ini ditutup dengan doa dan harapan agar Presiden Republik Indonesia mendengar suara hati para guru PPPK paruh waktu. Dari Kabupaten Subang, Jawa Barat, suara ini mewakili ribuan guru yang masih setia mengajar meski hidup dalam ketidakpastian.***red







0 comments:
Posting Komentar