Kabupaten Bandung Barat, KABARCIEPAT.COM — Di tengah hujan gerimis yang mengguyur lokasi bencana, dua sosok perempuan tampak menyingsingkan lengan baju, menyusuri jalur curam yang licin dan rawan longsor. Mereka bukan relawan SAR, bukan pula petugas medis. Mereka adalah Ida Widaningsih, mantan Ketua DPC PDIP Kabupaten Bandung Barat, dan Anggie, sahabat seperjuangannya sesama kader partai. Hari itu, keduanya hadir bukan sebagai politisi, melainkan sebagai manusia yang terpanggil. Sabtu, 24/1/2026
Dalam pantauan wartawan di lokasi kejadian, Kedua Aggota Dprd ini terlihat bahu-membahu bersama aparat kepolisian dan relawan membuka jalur evakuasi. Saat kabar ditemukannya beberapa jenazah oleh warga dan tim SAR tersebar, keduanya tak ragu terjun langsung ke titik evakuasi. Tanpa protokoler, tanpa sekat jabatan.
“Linggis! Kita butuh linggis!” seru KDM, salah satu tokoh masyarakat yang juga berada di lokasi. Spontan, Ida dan sahabatnya yang berna lengkap Angie natesha goenadi menyusuri warga sekitar, meminta bantuan mencari alat tersebut. Tak lama, linggis pun datang. Proses evakuasi pun berlanjut.
Ketika kantung jenazah mulai diangkat dari reruntuhan, Ida dan Anggie ikut membuka jalan menuju ambulans yang menunggu tak jauh dari lokasi. Jalurnya curam dan licin. “Kalau masuk sini bisa amblas" Ungkap Anggie yang kemudian diketahuo sebagai Dewan DPRD Kab Bandung ini.
"Tapi kami tidak ingin hanya menonton, Melihat kawan-kawan relawan, polisi, dan TNI berjibaku di tengah hujan, rasanya ingin menangis. Apalagi membayangkan keluarga yang ditinggalkan,” timpal Ida dengan mata berkaca-kaca.
Kehadiran mereka bukan pencitraan. Tak ada kamera yang sengaja diarahkan, tak ada panggung politik. Hanya ada empati yang nyata. Di tengah duka, mereka menunjukkan bahwa kemanusiaan tak mengenal warna partai.
Langkah Ida dan Anggie hari itu menjadi pengingat bahwa solidaritas adalah bahasa universal. Di tengah reruntuhan dan tangis kehilangan, mereka memilih hadir, membantu, dan menjadi bagian dari harapan.***Red














