KabarCiepat.com || BANDUNG BARAT — Persoalan akses pendidikan di Kabupaten Bandung Barat kembali menjadi sorotan. Di tengah capaian pendidikan yang terus menunjukkan peningkatan, masih ada pekerjaan besar yang belum selesai: memastikan masyarakat yang terputus dari pendidikan formal tetap memiliki jalan untuk kembali belajar.
Persoalan itulah yang coba dijawab melalui kolaborasi DPW Brigez Indonesia Kabupaten Bandung Barat dengan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Bandung Barat.
Keduanya kembali memperkuat kerja sama melalui Nota Kesepahaman (MoU) Program Pendidikan Nonformal Kesetaraan jenjang SD, SMP, dan SMA Tahun Ajaran 2026.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Minggu, 13 September 2026, bersama para peserta didik di Sekretariat DPD KNPI Kabupaten Bandung Barat.
RLS 8,34 Tahun: Masih Ada Persoalan yang Harus Dibongkar
Data pendidikan Kabupaten Bandung Barat memberikan gambaran yang menarik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Rata-rata Lama Sekolah (RLS) pada 2025 mencapai 8,34 tahun, naik dari 8,24 tahun pada 2024. Sementara Harapan Lama Sekolah (HLS) mencapai 12,26 tahun.
Kenaikan tersebut tentu menjadi indikator positif. Namun, di balik angka itu terdapat pertanyaan yang tidak kalah penting: bagaimana dengan masyarakat yang belum mampu menuntaskan pendidikan formalnya?
Di sinilah pendidikan kesetaraan menjadi penting.
Program kesetaraan bukan sekadar alternatif pendidikan, tetapi dapat menjadi jalur kedua bagi masyarakat yang karena faktor ekonomi, sosial, pekerjaan, keluarga, maupun kondisi lainnya harus meninggalkan bangku sekolah sebelum menyelesaikan pendidikan.
Artinya, keberhasilan pembangunan pendidikan tidak cukup hanya dilihat dari naiknya angka statistik. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan juga perlu memastikan bahwa mereka yang pernah tertinggal tidak semakin jauh tertinggal.
Brigez Tak Ingin Sekadar Menjadi Penonton
Bagi Brigez Indonesia Kabupaten Bandung Barat, persoalan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.
Organisasi kepemudaan tersebut menyatakan ingin mengambil peran lebih luas, bukan hanya dalam kegiatan sosial, tetapi juga dalam membuka ruang pendidikan bagi masyarakat.
«“Kami ingin organisasi tidak hanya hadir dalam kegiatan sosial, tetapi juga mengambil bagian dalam persoalan pendidikan. Data RLS Kabupaten Bandung Barat menjadi pengingat bahwa masih ada pekerjaan bersama untuk memastikan masyarakat memiliki kesempatan belajar yang lebih luas. Melalui kerja sama dengan SKB, kami ingin ikut membuka ruang tersebut,” ungkap perwakilan Brigez Indonesia KBB.»
Pernyataan tersebut menjadi penting karena persoalan pendidikan tidak mungkin diselesaikan hanya melalui program pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, masyarakat, dunia usaha, serta berbagai elemen lainnya.
MoU Jangan Berhenti di Atas Kertas
Kerja sama antara Brigez Indonesia KBB dan SKB Kabupaten Bandung Barat kini menghadapi tantangan yang lebih besar setelah MoU kembali diperkuat.
Pertanyaannya sederhana, tetapi penting: sejauh mana kesepakatan tersebut mampu diterjemahkan menjadi program nyata?
Sebab, persoalan pendidikan masyarakat tidak selesai hanya dengan penandatanganan dokumen kerja sama.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan proses belajar mengajar berjalan, peserta didik mendapatkan pendampingan, akses pendidikan terbuka, dan mereka yang mengikuti program benar-benar memperoleh kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan kesetaraan.
Karena itu, MoU ini seharusnya menjadi awal dari kerja bersama, bukan sekadar seremoni.
Membuka Jalan bagi Mereka yang Sempat Terhenti
Program Pendidikan Nonformal Kesetaraan Tahun Ajaran 2026 diharapkan mampu menjadi ruang bagi masyarakat yang sebelumnya tidak dapat menyelesaikan pendidikan formal untuk kembali mengejar ketertinggalan.
Kolaborasi Brigez Indonesia KBB dan SKB Kabupaten Bandung Barat pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang pendidikan hari ini, tetapi juga tentang masa depan sumber daya manusia Bandung Barat.
Ketika masih ada masyarakat yang belum menuntaskan pendidikan, maka pekerjaan pembangunan pendidikan belum sepenuhnya selesai.
Dan di tengah tantangan tersebut, setiap pintu yang dibuka untuk kembali belajar adalah bagian penting dari upaya memastikan tidak ada masyarakat yang kehilangan kesempatan kedua untuk mendapatkan pendidikan. ***Red






0 comments:
Posting Komentar