KabarCiepat.com || CIANJUR — Situs Kuta Tanggeuhan di Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, mulai memasuki babak baru. Kawasan yang menyimpan nilai sejarah tersebut kini resmi didorong menjadi destinasi wisata berbasis sejarah, budaya, dan lingkungan.
Langkah itu ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Pemanfaatan Jasa Lingkungan antara Perum Perhutani KPH Cianjur dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, Jumat (4/9/2026).
Kerja sama ini bukan sekadar membuka ruang bagi pengembangan destinasi wisata. Lebih jauh, PKS tersebut menjadi pijakan untuk mempertemukan tiga kepentingan sekaligus: menjaga kelestarian kawasan hutan, merawat warisan sejarah, dan menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
Kepala Divisi Regional Perhutani Jawa Barat dan Banten, Yudha Suswardhanto, menegaskan bahwa kawasan hutan memiliki fungsi yang jauh lebih luas. Selain fungsi produksi dan ekologis, hutan juga memiliki potensi jasa lingkungan yang dapat dikembangkan secara bertanggung jawab.
«“Kami berharap Situs Kuta Tanggeuhan dapat dikelola secara profesional, aman, dan tetap menjaga kelestarian ekosistem hutan di sekitarnya sehingga memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat luas,” kata Yudha.»
Potensi Besar, Tantangan Pengelolaan Menanti
Administratur KPH Cianjur, Herdy Indriawan, menyambut positif kerja sama tersebut. Menurutnya, Cianjur memiliki kekayaan wisata alam sekaligus historis yang sangat besar, namun potensi tersebut harus dikelola dengan konsep yang jelas dan tidak mengorbankan lingkungan.
«“Wilayah kerja kami di Cianjur memiliki potensi wisata alam dan historis yang luar biasa. Sinergi dengan Disparbud Provinsi Jawa Barat ini akan menjadi landasan hukum yang kuat dalam penataan destinasi, peningkatan kenyamanan pengunjung, serta pelibatan aktif Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) demi kesejahteraan ekonomi lokal,” ungkap Herdy.»
Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu poin penting. Pengembangan wisata diharapkan tidak berhenti pada peningkatan jumlah pengunjung, tetapi juga menciptakan ruang ekonomi baru bagi masyarakat desa sekitar kawasan hutan.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penonton dari geliat pariwisata, tetapi dapat mengambil peran dalam pengelolaan dan memperoleh manfaat ekonomi dari keberadaan destinasi tersebut.
Warisan Leluhur Jangan Kalah oleh Kepentingan Wisata
Sementara itu, Kepala Disparbud Provinsi Jawa Barat menilai Situs Kuta Tanggeuhan merupakan aset peradaban yang memiliki nilai tinggi.
Karena itu, pengembangan kawasan tidak boleh semata-mata mengejar angka kunjungan wisatawan. Aspek edukasi, konservasi dan perlindungan warisan sejarah harus tetap menjadi bagian utama dalam penataan.
«“Penataan ini tidak hanya berfokus pada kunjungan wisata, tetapi juga pada upaya edukasi, konservasi, dan pelindungan warisan leluhur agar tetap lestari di masa depan,” pungkasnya.»
Kerja sama tersebut kini menjadi awal pekerjaan besar. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan Kuta Tanggeuhan menarik bagi wisatawan tanpa kehilangan identitas sejarahnya, sekaligus menjaga hutan tetap lestari dan memastikan masyarakat sekitar ikut menikmati manfaatnya.
Jika dikelola secara konsisten dan berkelanjutan, Situs Kuta Tanggeuhan berpeluang menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan Cianjur yang mengawinkan kekayaan budaya dengan keindahan alam kawasan hutan. ***Dani






0 comments:
Posting Komentar