KabarCiepat.Com || CIANJUR — Kepala Desa Nanggala Mekar, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Hilman, kembali ke tanah air setelah mengikuti Program Benchmarking Study Batch 6 ke Tiongkok (China) yang diselenggarakan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT).
Program study tiru internasional tersebut berlangsung pada 6–16 September 2026 dan diikuti para kepala desa dari sejumlah daerah. Delegasi Jawa Barat yang di dalamnya terdapat Kades Nanggala Mekar, Hilman, sebelumnya dilepas langsung oleh Menteri Desa dan PDT Yandri Susanto bersama Wakil Menteri Desa dan PDT Ariza Patria.
Program tersebut diarahkan untuk mempelajari berbagai praktik terbaik pembangunan dan pengelolaan desa di Tiongkok yang dinilai dapat menjadi referensi pengembangan desa di Indonesia.
Rombongan dipimpin Kepala Badan Pengembangan dan Informasi Daerah Tertinggal Kemendes PDT, Dr. Drs. Mulyadin Malik, M.Si., CIGS. Salah satu lokasi pembelajaran berada di Provinsi Yunnan, termasuk Desa Haiyan, Distrik Chenggong.
Desa tersebut menjadi salah satu lokasi pembelajaran karena dinilai berhasil mengembangkan revitalisasi perdesaan dengan mengintegrasikan penguatan ekonomi lokal, perlindungan lingkungan, serta pelestarian budaya.
Fokus pada Sinergi Pemerintah, Teknologi hingga BUMDes
Sepulang dari Tiongkok, Hilman mengungkapkan sejumlah pembelajaran yang menjadi perhatian khusus selama mengikuti program tersebut.
Saat ditemui di ruang kerjanya di Desa Nanggala Mekar, Kamis (17/9/2026), Hilman mengatakan dirinya fokus mempelajari bagaimana sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah desa dan pemanfaatan teknologi dapat menjadi kekuatan dalam mempercepat pembangunan desa.
Selain itu, pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) secara modern juga menjadi salah satu hal yang menarik untuk dipelajari, mulai dari pengembangan sektor pertanian hingga pengelolaan pariwisata secara terpadu.
Menurut Hilman, pengalaman tersebut tidak hanya akan menjadi pengetahuan setelah mengikuti study tiru, tetapi diharapkan dapat diterapkan secara bertahap di Desa Nanggala Mekar.
“Pada prinsipnya, setelah mengikuti study tiru ini, kami siap melaksanakan dan mengimplementasikan pembelajaran yang kami dapat di desa, tentunya secara bertahap dan disesuaikan dengan potensi serta kondisi Desa Nanggala Mekar,” ujar Hilman.
Tata Kelola hingga Potensi Ekonomi Masyarakat
Hilman menyebutkan, sejumlah aspek yang akan menjadi perhatian ke depan di antaranya tata kelola pemerintahan desa, strategi pembangunan berkelanjutan, pengelolaan kawasan wisata desa, serta optimalisasi potensi ekonomi berbasis masyarakat.
Ia menyadari bahwa penerapan konsep tersebut tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan proses, perencanaan, kolaborasi dan dukungan berbagai pihak agar pembelajaran dari Tiongkok dapat disesuaikan dengan karakteristik Desa Nanggala Mekar.
Karena itu, Hilman berharap adanya keterlibatan dan keberpihakan pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun pemerintah pusat, khususnya dalam mendukung aspek pembiayaan.
“Semoga berhasil, walaupun tentunya setahap demi setahap. Kami berharap ada keterlibatan dan keberpihakan dari Pemkab Cianjur, Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun pemerintah pusat, terutama dalam hal ketersediaan anggaran,” harapnya.
Bagi Desa Nanggala Mekar, pengalaman mengikuti Benchmarking Study Batch 6 ke Tiongkok diharapkan menjadi momentum untuk membawa pulang gagasan pembangunan yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Dengan demikian, hasil study tiru tersebut tidak berhenti sebagai pengalaman perjalanan internasional, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat desa. ***Red/kh.E






0 comments:
Posting Komentar