Di Trevel Sahara Grup Dengan 25 Juta Bisa Ketanah Suci

✨ UMRAH HEMAT KE TANAH SUCI ✨ Ingin berangkat ke Tanah Suci tapi khawatir dengan biaya? Sekarang bersama Travel Sahara Grup, Anda bisa menunaikan ibadah umrah dengan biaya mulai dari 25 Juta saja. 🕋 Fasilitas yang didapat: ✔ Tiket pesawat pulang–pergi ✔ Hotel nyaman di Makkah & Madinah ✔ Transportasi selama di Arab Saudi ✔ Makan sesuai program ✔ Pembimbing ibadah berpengalaman ✔ Ziarah tempat bersejarah 💫 Kesempatan beribadah ke Makkah & Madinah kini semakin mudah dan terjangkau. 📅 Kuota terbatas – Segera daftarkan diri Anda dan keluarga! 📞 Info & pendaftaran: 0821-2619-5038 Dewi Yulia Hubungi admin Travel Sahara Grup sekarang juga. “Panggilan Allah jangan ditunda jika sudah dimudahkan jalannya.”

Minggu, 12 April 2026

SDN 2 Citatah Raih Prestasi di Ajang LMBKS Tingkat Kecamatan Cipatat

Cipatat, KBB. Kabarciepat.com – Senin pagi, 13 April 2026, suasana berbeda tampak di SDN 2 Citatah saat pelaksanaan upacara bendera rutin. Seperti biasa, seluruh peserta didik dan dewan guru mengikuti kegiatan dengan tertib. Namun, perhatian siswa sempat tertuju pada deretan medali yang tersusun rapi di hadapan peserta upacara.

Rasa penasaran pun muncul di kalangan siswa. “Prestasi apa lagi yang didapat sekolah kita?” ujar Nabila, salah satu siswi kelas 5, yang ikut memperhatikan deretan medali tersebut bersama teman-temannya.

Jawaban atas rasa penasaran itu terungkap saat Kepala Sekolah SDN 2 Citatah, Elis Ernawati, M.Pd, bertindak sebagai pembina upacara. Dalam amanatnya, ia mengumumkan bahwa SDN 2 Citatah berhasil meraih sejumlah prestasi dalam ajang Lomba Minat, Bakat, dan Kreativitas Siswa (LMBKS) tingkat Kecamatan Cipatat.

Dalam kesempatan tersebut, Elis menyampaikan bahwa sekolah berhasil meraih berbagai medali, mulai dari juara 1, juara 2, hingga juara 3 di sejumlah cabang lomba.

Adapun rincian prestasi yang diraih SDN 2 Citatah adalah sebagai berikut:

Juara 1 Sajak Putri

Juara 2 Sajak Putra

Juara 2 Ngadongeng Putri

Juara 2 Biantara Putri

Juara 2 Qosidah

Juara 3 MTQ Putri

Juara 2 LITNUM Kelas 1

Juara 3 Mendongeng Putri

Kepala Sekolah SDN 2 Citatah, Elis Ernawati, M.Pd, mengungkapkan rasa syukur atas capaian tersebut.

“Alhamdulillah, SDN 2 Citatah mendapat juara satu, kedua, dan tiga. Ini merupakan prestasi yang sangat luar biasa. Saya mengucapkan terima kasih kepada para peserta didik, guru pembina, seluruh staf sekolah, serta orang tua yang telah memberikan dukungan penuh,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa meskipun pada tahun sebelumnya SDN 2 Citatah sempat menjadi perwakilan ke tingkat kabupaten, capaian tahun ini tetap menjadi motivasi bagi seluruh siswa untuk terus berkembang dan meningkatkan prestasi.

“Untuk tahun ini mungkin kemenangan yang tertunda. Jangan menyerah, tetap semangat. Apalagi peserta didik yang ikut masih kelas rendah, sehingga peluang untuk berprestasi di tahun depan masih sangat terbuka,” tambahnya.

Dengan semangat juang yang tinggi, SDN 2 Citatah optimistis dapat kembali berpartisipasi dan meraih hasil yang lebih maksimal pada ajang berikutnya.

“Terus junjung prestasi setinggi mungkin dan berupaya semaksimal mungkin di setiap kesempatan,” tutupnya. ***Red

Share:

SDN 2 Citatah Raih Juara II Lomba PAI Qosidah di Ajang LMBKS Kecamatan Cipatat

Cipatat, KBB – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh SDN 2 Citatah dalam ajang Lomba Minat, Bakat, dan Kreativitas Siswa (LMBKS) tingkat Kecamatan Cipatat, khususnya pada lomba PAI cabang Qosidah. Dalam kompetisi tersebut, SDN 2 Citatah berhasil meraih Juara II. Jumat, 10/4/2026

Para peserta didik tampil kompak dan penuh percaya diri dengan balutan busana seragam bernuansa ungu, membawakan penampilan qosidah yang memukau di hadapan dewan juri. Kekompakan tim serta pembinaan yang matang dari guru menjadi kunci keberhasilan dalam meraih prestasi ini.

Kepala Sekolah SDN 2 Citatah, Elis Ernawati, M.Pd, menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut.

“Alhamdulillah, SDN 2 Citatah mendapat juara kedua. Ini merupakan prestasi yang sangat luar biasa. Saya mengucapkan terima kasih kepada para peserta didik, guru pembina, seluruh staf sekolah, serta orang tua yang telah memberikan dukungan penuh,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa meskipun tahun sebelumnya SDN 2 Citatah sempat menjadi perwakilan ke tingkat kabupaten, capaian tahun ini tetap menjadi motivasi bagi siswa untuk terus berkembang.

“Untuk tahun ini mungkin kemenangan yang tertunda. Jangan menyerah, tetap semangat. Apalagi peserta didik yang ikut masih kelas rendah, sehingga peluang untuk berprestasi di tahun depan masih sangat terbuka,” tambahnya.

Dengan semangat juang yang tinggi, SDN 2 Citatah optimistis dapat kembali berpartisipasi dan meraih hasil yang lebih maksimal pada ajang berikutnya.

“Terus junjung prestasi setinggi mungkin dan berupaya semaksimal mungkin di setiap kesempatan,” tutupnya. ***Red

Share:

Diduga Gunakan Aset Desa, Aktivitas Galian C di Nanggalamekar Jadi Sorotan Publik

Ciranjang kab.cianjur, kabarciepat.com – Aktivitas galian C yang diduga memanfaatkan aset Desa Nanggalamekar, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, menjadi sorotan publik.

Lokasi galian yang berada di Kampung Pasir Gagak RT 01/RW 04 itu menuai keluhan warga karena dinilai tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.

Sorotan ini bermula dari aduan warga Desa Nanggalamekar yang meminta identitasnya dirahasiakan. Ia mempertanyakan kejelasan pengelolaan hasil dari aktivitas galian tersebut.

“Itu galian masuk uangnya ke mana? Itu kan aset desa, seharusnya untuk kesejahteraan warga. Tapi kenyataannya tidak pernah ada program yang dirasakan masyarakat. Saya juga menduga galian itu tidak memiliki izin lengkap,” ungkapnya, Minggu (12/4/2026).

Foto istimewa keadaan di lokasi galian C

Warga tersebut juga meminta aparat penegak hukum, khususnya unit tindak pidana korupsi (Tipikor) Polres Cianjur, untuk segera turun tangan menyelidiki dugaan penyalahgunaan aset desa tersebut.

Menindaklanjuti aduan itu, awak media mendatangi langsung lokasi yang dimaksud. Di lapangan, terlihat aktivitas galian C masih berlangsung dengan sejumlah kendaraan pengangkut material yang keluar masuk area.

Saat dikonfirmasi di lokasi, pihak kasir menyarankan agar awak media langsung menemui Kepala Desa Nanggalamekar, karena menurutnya pengelolaan galian tersebut berada di bawah kewenangan kepala desa.

Ketika ditelp, Kepala Desa Nanggalamekar berinisial H, menyatakan bahwa aktivitas galian tersebut telah memiliki izin lengkap. Namun saat diminta menunjukkan dokumen perizinan, ia mengaku belum dapat memperlihatkannya.12/4/2026

“Izin lengkap ada, tapi berkasnya di laptop. Sekarang laptopnya sedang diperbaiki (reset), jadi datanya terhapus. Saya harus minta lagi,” jelasnya.

Kades pun menambahkan PAD masuk kedesa dari galian sebesar 30jt perbulan dan di gunakan pada masyarakat seperti rutilahu dan lain lain dan itu di kelola nya oleh pihak ke 3 kita kerjasama pengusaha dan desa.

Pernyataan tersebut justru menimbulkan tanda tanya baru di tengah masyarakat, mengingat pentingnya dokumen perizinan dalam aktivitas pertambangan, terlebih jika menggunakan aset desa.

Di hari yang sama awak media sempat menerima TLP dari pihak ke tiga penambang yg berinisial IN dan menjelaskan bahwa galian C dia kelola ijin nya sudah resmi bahkan IN mengirim beberapa berkas perihal perijinan nan nya diantara nya .12/4/2026

–SK WIUP PT.GADA SAHAJA ALAM PERKASA PDF

–SK SIPB PT GADA SAHAJA ALAM PERKASA.PDF

–5753_181124_TAMBANG_SR_PERSETUJUAN DOKUMEN TEKNIS

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya telah menegaskan larangan terhadap aktivitas galian C ilegal. Kebijakan tersebut bertujuan untuk mencegah kerusakan lingkungan serta menertibkan praktik pertambangan yang tidak sesuai aturan.

Dengan adanya dugaan penggunaan aset desa tanpa transparansi serta kejelasan izin, masyarakat berharap pihak terkait segera melakukan investigasi menyeluruh. 

Selain menyangkut potensi pelanggaran hukum, kasus ini juga menyentuh aspek pengelolaan aset desa yang seharusnya berpihak pada kesejahteraan warga.

Hingga berita ini diturunkan, aktivitas galian di lokasi tersebut masih terpantau berlangsung. Warga pun berharap ada tindakan tegas dari aparat dan pemerintah daerah guna memastikan kepastian hukum serta melindungi kepentingan masyarakat. ***Nugroho

Share:

Ada Saja Korban Terjatuh Di Jalan,Proyek Galian Tanah Bobojong Mande Kian Meresahkan

Cianjur, kabarciepat.com – Aktivitas proyek galian tanah di Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, kini tak lagi sekadar menjadi bagian dari pembangunan desa.Seperti diberitakan kabar Ciepat kemarin mengenai proyek galian picu bahaya laka terutama pengguna roda dua.
Hari ini di mata masyarakat, proyek tersebut telah berubah menjadi sumber keresahan yang kian hari kian memanas. 

Alih-alih membawa manfaat, aktivitas ini justru dinilai menimbulkan dampak serius terhadap keselamatan dan kenyamanan warga.

Sejak beberapa waktu terakhir, lalu lalang truk pengangkut tanah menjadi pemandangan yang tak terelakkan di ruas jalan kabupaten yang melintasi wilayah tersebut.

Ironisnya, kendaraan-kendaraan besar itu diduga kerap membawa muatan melebihi kapasitas yang seharusnya ditanggung oleh jalan dengan spesifikasi terbatas. Sabtu (11/4/2026), kondisi ini mencapai titik yang memicu sorotan tajam dari masyarakat.

Bukan tanpa alasan. Jalan yang sebelumnya menjadi akses vital warga kini berubah menjadi lintasan berbahaya. Ceceran tanah merah dari truk pengangkut membuat permukaan jalan menjadi licin, kotor, dan rawan kecelakaan. 

Dalam kondisi cuaca yang kerap diguyur hujan, tanah yang berceceran itu berubah menjadi lumpur yang membahayakan, terutama bagi pengendara roda dua.

Padahal, aturan terkait aktivitas pengangkutan material sudah sangat jelas. Mengacu pada Peraturan Daerah Kabupaten Cianjur Nomor 07 Tahun 2012, setiap kendaraan pengangkut material wajib menggunakan penutup muatan seperti terpal, membatasi jam operasional, serta bertanggung jawab menjaga kebersihan jalan dari sisa material. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan dugaan pelanggaran yang terjadi secara berulang tanpa pengawasan ketat.

“Ini bukan lagi soal nyaman atau tidak, tapi sudah menyangkut keselamatan,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Dedi, seorang warga yang menjadi korban akibat kondisi jalan tersebut. Ia mengaku terjatuh saat melintasi jalan yang dipenuhi tanah berceceran. Insiden itu bahkan membuatnya harus dibantu warga sekitar untuk bangkit.

“Sangat mengganggu. Jalan sempit, tapi dilalui kendaraan besar. Tanahnya berserakan, jadi licin,” keluhnya dengan nada kesal.

Menurutnya, jalan kabupaten tersebut sejak awal memang tidak dirancang untuk dilintasi kendaraan bertonase besar secara intensif. 

Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya risiko kecelakaan yang meningkat, tetapi juga potensi kerusakan infrastruktur jalan dalam jangka panjang.

Di tengah gelombang kritik dari masyarakat, Kepala Desa Bobojong, Suwandi, memberikan penjelasan terkait proyek tersebut. Ia menyebut bahwa kegiatan galian tanah merupakan bagian dari program pembangunan desa yang telah diusulkan melalui Musrenbang RPJMDes.

“Lapangan bola desa memang sudah masuk dalam rencana. Posisi tanahnya terlalu tinggi, jadi kita turunkan. Karena keterbatasan anggaran, tanah hasil galian dimanfaatkan oleh pihak yang membutuhkan untuk urugan,” jelasnya melalui pesan singkat.

Namun, penjelasan tersebut tampaknya belum cukup meredam kemarahan warga. Bagi masyarakat, alasan efisiensi anggaran tidak seharusnya mengorbankan keselamatan publik. 

Terlebih jika pelaksanaan di lapangan terkesan tanpa pengendalian yang jelas.

Sorotan juga datang dari H. Hamdan, tokoh masyarakat Jangari sekaligus aktivis 98. Ia secara tegas menyampaikan keprihatinannya terhadap dampak yang ditimbulkan dari aktivitas tersebut.

Menurutnya, pengangkutan tanah merah yang dilakukan saat ini sangat membahayakan pengguna jalan. Ia bahkan menyoroti adanya korban kecelakaan akibat kondisi jalan yang kotor dan licin.

“Ini sudah jelas membahayakan. Jalan jadi kotor, licin, dan sudah ada korban. Harapan kami, kalau bisa aktivitas ini dihentikan sementara, apalagi sekarang musim hujan,” tegasnya.

Ia juga mempertanyakan koordinasi dan pengawasan dari pihak-pihak terkait. Menurutnya, aparat dan instansi pemerintah seperti kecamatan, kepolisian, hingga pemerintah daerah seharusnya turun langsung ke lapangan untuk memastikan situasi tetap aman dan terkendali.

“Jangan sampai menunggu korban berikutnya baru bertindak,” tambahnya.

Kondisi ini pun memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: di mana peran pengawasan? Apakah aturan yang telah dibuat hanya sebatas formalitas tanpa implementasi nyata?.

Warga berharap adanya langkah tegas dari instansi berwenang untuk menertibkan aktivitas proyek tersebut. Mereka menuntut agar setiap kegiatan pembangunan tetap mengedepankan keselamatan, kenyamanan, serta kepentingan masyarakat luas.

Jika situasi ini terus dibiarkan tanpa penanganan serius, bukan tidak mungkin jalan yang seharusnya menjadi urat nadi aktivitas warga justru berubah menjadi titik rawan kecelakaan yang mengintai setiap saat.

Pembangunan sejatinya membawa kemajuan. Namun tanpa perencanaan matang, pengawasan ketat, dan tanggung jawab yang jelas, pembangunan bisa berubah menjadi bencana yang merugikan masyarakat itu sendiri.

Di Bobojong hari ini, garis tipis antara pembangunan dan petaka itu terasa semakin nyata karena dalam satu hari saja tidak hanya satu tapi berulangkali pengguna kendaraan roda berjatuhan kala melintas di sana dimanakah para petugas berwenang. ***Yudi Farell
Share:

8 ruang kelas di sengketakan, rumah dinas guru di bobol : Guru PAI ngungsi Ketakutan

KBB, kabarciepat.com – Aktivitas belajar mengajar di SDN Bunisari, Desa Gadogangkong, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, terancam terganggu akibat sengketa lahan dengan pihak yang mengaku sebagai ahli waris. Selasa, 7/4/2026

Peristiwa bermula dari pemagaran kawasan sekolah pada Senin, 6 April 2026, sejak pukul 13.00 WIB, yang kemudian berlanjut dengan aksi pembongkaran fasilitas pada sekitar pukul 16.40 WIB di hari yang sama.

Berdasarkan pantauan di lokasi, terlihat adanya tindakan pemagaran serta pembongkaran pada bagian fasilitas sekolah, termasuk area rumah dinas guru. Dalam foto yang diterima redaksi, sejumlah orang tampak tengah membongkar bagian bangunan dengan cara dijebol.
Diketahui, sebanyak 8 ruang kelas yang digunakan untuk 11 rombongan belajar (rombel) menjadi bagian dari lahan yang disengketakan. Kondisi ini tentu berdampak besar terhadap keberlangsungan kegiatan belajar mengajar, mengingat jumlah siswa di SDN Bunisari mencapai sekitar 550 orang.

Seorang guru yang enggan disebutkan namanya menyampaikan bahwa situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran di lingkungan sekolah.

“Situasi ini sangat mengganggu dan membuat kami khawatir. Apalagi kegiatan belajar mengajar bisa terdampak,” ujarnya.

Lebih lanjut, salah satu guru Pendidikan Agama Islam (PAI), M. Satori, yang merupakan penghuni rumah dinas, dilaporkan mengalami ketakutan setelah rumah dinas yang ditempatinya dibobol oleh pihak yang mengatasnamakan ahli waris.

Akibat kejadian tersebut, M. Satori terpaksa mengungsi demi keselamatan dirinya. Hingga saat ini, kondisi di lokasi masih menimbulkan keresahan bagi para guru maupun siswa.

Di sisi lain, pihak yang mengklaim sebagai ahli waris memasang papan informasi yang menyatakan bahwa lahan tersebut merupakan milik hukum ahli waris berdasarkan akta jual beli, serta berada dalam pengawasan kantor hukum.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pemerintah setempat maupun aparat penegak hukum terkait langkah penanganan sengketa tersebut.

Masyarakat berharap adanya mediasi dan penyelesaian secara bijak agar kegiatan pendidikan di SDN Bunisari dapat kembali berjalan normal tanpa rasa takut. ***Red
Share:

Bantuan Korban Longsor Pasirlangu Dipertanyakan, Warga Mengaku Belum Menerima

Bandung Barat, kabarciepat.com – Warga terdampak bencana longsor di Kampung Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, mempertanyakan kejelasan penyaluran bantuan yang sebelumnya ramai diberitakan dan viral di media sosial. Jumat, 10/4/2026

Sejumlah pihak disebut telah menyalurkan bantuan, di antaranya Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, tokoh publik Raffi Ahmad, serta Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Namun hingga saat ini, sejumlah warga mengaku belum menerima bantuan tersebut secara langsung.

Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat yang masih berjuang memulihkan keadaan pasca bencana.

Adar (63), warga setempat, mengungkapkan bahwa dirinya baru menerima bantuan uang dari Gubernur Jawa Barat sebesar Rp10 juta, serta bantuan pakaian dari para donatur.

“Saya baru menerima bantuan uang dari Gubernur Jawa Barat sebesar Rp10 juta. Untuk bantuan pakaian dari donasi Alhamdulillah banyak. Namun, bantuan uang dari pemerintah desa sampai sekarang belum ada. Kalau dari donatur yang datang langsung, Alhamdulillah ada, di luar pemerintah desa dan Pemkab Bandung Barat,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa warga hanya mendengar adanya bantuan dari berbagai pihak, namun belum merasakannya secara langsung.

“Kami dengar ada bantuan dari berbagai pihak, seperti Wakil Presiden dan Raffi Ahmad. Tapi sampai sekarang belum ada yang kami terima. Kami berharap ada kejelasan,” tambahnya.

Di sisi lain, salah satu tokoh masyarakat Kampung Pasirkuning yang juga terdampak menyampaikan bahwa informasi bantuan memang sempat ramai beredar di media sosial hingga televisi nasional. Namun, realisasi di lapangan belum dirasakan secara merata oleh para korban.

“Kalau bantuan dari Bapak Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, sudah diterima oleh masyarakat. Nuhun Pak Dedi, terima kasih,” ungkapnya.

Bencana longsor yang melanda wilayah Pasirlangu sebelumnya menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga serta mengganggu aktivitas masyarakat.
Selain itu, warga juga mengaku belum mendapatkan kejelasan terkait rencana relokasi.

“Terkait relokasi, kami belum menerima informasi lebih lanjut. Kami berharap pemerintah setempat dan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat segera memberikan kejelasan. Kami yang terdampak sangat membutuhkan kepastian,” ujar tokoh masyarakat tersebut.

Masyarakat berharap pemerintah dan pihak-pihak yang telah menjanjikan bantuan dapat segera memastikan distribusi bantuan berjalan secara merata, transparan, dan tepat sasaran.

Sementara itu, pihak terkait diharapkan segera memberikan klarifikasi agar tidak menimbulkan keresahan berkepanjangan di tengah masyarakat. ***Red
Share:

Potret Nyata Kemiskinan Di Balik Gemerlap Sorotan Kepada Sang Pemimpin Dan Para Dermawan

Cianjur, kabarciepat.com – Di tengah derasnya narasi dan gembar-gembor tentang keberpihakan program bantuan pemerintah kepada masyarakat kecil, realita di lapangan menghadirkan cerita yang tak semanis laporan di atas kertas.

 Di sebuah kampung bernama Kp Cisaat, RT 01/08, Desa Sabandar, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, seorang warga bernama Nanang (45) menjalani hari-harinya dalam kondisi yang jauh dari kata layak.

Rumah yang ia tempati bersama keluarga kecilnya kini berdiri dalam kondisi memprihatinkan padahal berada di daerah yang terbilang ramai penduduk. Atap yang bocor di hampir seluruh bagian, dinding yang mulai rapuh, serta struktur bangunan yang sangat lapuk menjadikan tempat tinggal itu lebih mirip ancaman daripada perlindungan.

Ironisnya, kondisi ini berlangsung di tengah gencarnya berbagai program bantuan yang disebut-sebut menyasar masyarakat kurang mampu,mulai dari program bedah rumah ala bos rumah makan khas sunda dan program bantuan rutilahu dari pemerintah daerah.
.        foto istimewa: keadaan dilokasi

Memasuki musim penghujan, situasi berubah dari sekadar sulit menjadi sangat mengkhawatirkan.

Air hujan tak lagi sekedar menetes, melainkan masuk dari berbagai celah, menggenangi bagian dalam rumah dan memaksa penghuninya beradaptasi dengan keadaan yang seharusnya tidak layak  untuk di tempati.

Saat ditemui pada Minggu (12/4/2026) Nanang penghuni tempat tersebut berbicara dengan nada lirih antara pasrah dan kecewa. Kalimat-kalimat yang ia sampaikan sederhana, namun menyimpan beban yang tak ringan.
“Ya gimana Pak, kondisi begini… makan saja kadang kurang layak."

"Rumah juga seperti ini, bocor di mana-mana. Katanya ada program bantuan, tapi sampai sekarang belum terasa. Jawabannya selalu soal rezeki saja,” ujarnya.
Ungkapan itu seolah menjadi potret kecil dari jurang antara harapan dan kenyataan.

Di satu sisi, program bantuan terus digaungkan sebagai solusi. Di sisi lain, warga seperti Nanang masih bergulat dengan persoalan paling dasar, atap yang tidak lagi mampu menahan hujan.

Menurut penuturannya, kondisi rumah tersebut sebenarnya sudah lama mengalami kerusakan. Namun, seiring waktu dan minimnya kemampuan untuk memperbaiki, kerusakan itu kian parah. Kini, setiap hujan turun, keluarga ini harus bersiap menghadapi air yang masuk tanpa bisa dicegah.

“Kalau hujan, pasti bocor semua. Sudah tidak bisa diperbaiki sendiri. Takutnya malah roboh,” lanjutnya, dengan kekhawatiran yang terasa nyata.
Kondisi ini bukan hanya persoalan fisik bangunan, tetapi juga menyentuh aspek psikologis. Hidup dalam ketidakpastian di bawah atap yang sewaktu-waktu bisa runtuh jelas bukan hal yang mudah, terlebih bagi keluarga yang memiliki anak-anak.

Nanang tinggal bersama istri dan anak-anaknya, termasuk seorang anak yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP dan seorang balita berusia 3 tahun. Dalam situasi seperti ini, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru berubah menjadi sumber kecemasan setiap kali langit mulai gelap.

Harapan pun sebenarnya tidak muluk. Nanang hanya ingin ada perhatian nyata bukan sekadar janji atau proses yang tak kunjung selesai. Ia meyakini bahwa kondisi seperti yang ia alami seharusnya menjadi prioritas dalam program bantuan sosial, khususnya perbaikan rumah tidak layak huni.

“Harapannya ya ada yang melihat langsung kondisi kami. Jangan hanya yang mampu saja yang dibangun. Kami yang benar-benar butuh justru seperti tidak terlihat,” tuturnya.

Pernyataan ini terdengar sederhana, tetapi mengandung kritik yang cukup tajam. Sebab di tengah banyaknya program yang diklaim tepat sasaran, masih ada warga yang merasa luput dari perhatian. Bukan karena tidak layak dibantu, melainkan karena mungkin belum cukup terlihat.

Sementara itu, Kepala Desa Sabandar, Dedi Saepudin, saat dikonfirmasi memberikan tanggapan singkat. Ia menyebut bahwa bantuan untuk Nanang saat ini masih dalam proses pengajuan.
“Belum ada bantuannya, sedang diperjuangkan,” katanya.

Namun, jawaban tersebut justru memunculkan pertanyaan yang sulit dihindari. Di tengah kondisi rumah yang sudah berada di ambang keruntuhan, seberapa lama lagi proses itu harus berjalan? Dan yang lebih penting, apakah waktu yang dibutuhkan masih sebanding dengan risiko yang dihadapi?

Sebab dalam situasi seperti ini, keterlambatan bukan sekadar soal administrasi melainkan soal keselamatan. Ketika hujan turun deras dan angin bertiup kencang, ancaman itu menjadi semakin nyata, tidak lagi bisa ditunda atau dinegosiasikan.

Kisah Nanang menjadi ironi yang sulit dipungkiri. Di satu sisi, berbagai program bantuan terus diklaim berjalan dan memberikan dampak positif. Namun di sisi lain, masih ada warga yang bertahan dalam kondisi yang jauh dari layak, seolah menunggu giliran dalam antrean panjang yang tak jelas ujungnya.

Pertanyaannya pun mengemuka dengan sendirinya: sampai kapan warga kecil seperti Nanang harus menunggu? Apakah bantuan akan datang tepat waktu, atau justru setelah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi?

Lebih jauh, kondisi ini juga menjadi cermin bagi sistem yang ada. Bahwa keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah realisasi atau laporan administratif, tetapi dari seberapa nyata dampaknya dirasakan oleh mereka yang paling membutuhkan.

Hari ini, Nanang dan keluarganya masih bertahan. Di bawah atap yang bocor, di dalam rumah yang rapuh, mereka terus menjalani kehidupan dengan harapan yang belum padam.

Harapan bahwa suatu hari nanti, bantuan yang selama ini hanya terdengar sebagai wacana benar-benar hadir dalam bentuk nyata.

Sebab bagi mereka, rumah bukan sekadar bangunan. Ia adalah satu-satunya tempat berlindung dari hujan, dari panas, dan dari kerasnya kehidupan yang tak selalu berpihak.

Dan ketika tempat berlindung itu sendiri tak lagi mampu melindungi, maka yang tersisa hanyalah satu pertanyaan sederhana yang sayangnya belum juga menemukan jawaban. ***Farell
Share:

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 syawal 1447 H

https://www.blogger.com/u/0/blog/page/edit/9036554561978506067/3111317229885343532#

bener iklan

Umroh Plus Dubai Turki hanya 35 Juta

Umroh Plus Dubai Turki hanya 35 Juta
‎“Daftar sekarang, wujudkan niat suci bersama Sahara Grup!”  hubungi kami : https://wa.me/082126195038 IBU Dewi ‎https://wa.me/083865159313 BPK Riki ‎#HajiUmroh ‎#SaharaGrup ‎#PerjalananSuci ‎#TravelHaji ‎#UmrohBersama ‎#HajiMabrur

Trevel Sahara Grup

Trevel Sahara Grup
- “Tanah Suci menanti, Sahara Grup siap menemani. Mari wujudkan niat suci dengan langkah pasti.” - “Ibadah Umroh dan Haji adalah panggilan hati. Sahara Grup membantu Anda menjawab panggilan itu.”

Selamat hari raya idul Fitri 1447 H

https://www.kabarciepat.com/p/selamat-hari-raya-1-syawal-1447-h.html

Blog Archive

Blogger templates

pristiwa