Di Trevel Sahara Grup Dengan 25 Juta Bisa Ketanah Suci

✨ UMRAH HEMAT KE TANAH SUCI ✨ Ingin berangkat ke Tanah Suci tapi khawatir dengan biaya? Sekarang bersama Travel Sahara Grup, Anda bisa menunaikan ibadah umrah dengan biaya mulai dari 25 Juta saja. 🕋 Fasilitas yang didapat: ✔ Tiket pesawat pulang–pergi ✔ Hotel nyaman di Makkah & Madinah ✔ Transportasi selama di Arab Saudi ✔ Makan sesuai program ✔ Pembimbing ibadah berpengalaman ✔ Ziarah tempat bersejarah 💫 Kesempatan beribadah ke Makkah & Madinah kini semakin mudah dan terjangkau. 📅 Kuota terbatas – Segera daftarkan diri Anda dan keluarga! 📞 Info & pendaftaran: 0821-2619-5038 Dewi Yulia Hubungi admin Travel Sahara Grup sekarang juga. “Panggilan Allah jangan ditunda jika sudah dimudahkan jalannya.”

Minggu, 12 April 2026

Bantuan Korban Longsor Pasirlangu Dipertanyakan, Warga Mengaku Belum Menerima

Bandung Barat, kabarciepat.com – Warga terdampak bencana longsor di Kampung Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, mempertanyakan kejelasan penyaluran bantuan yang sebelumnya ramai diberitakan dan viral di media sosial. Jumat, 10/4/2026

Sejumlah pihak disebut telah menyalurkan bantuan, di antaranya Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, tokoh publik Raffi Ahmad, serta Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Namun hingga saat ini, sejumlah warga mengaku belum menerima bantuan tersebut secara langsung.

Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat yang masih berjuang memulihkan keadaan pasca bencana.

Adar (63), warga setempat, mengungkapkan bahwa dirinya baru menerima bantuan uang dari Gubernur Jawa Barat sebesar Rp10 juta, serta bantuan pakaian dari para donatur.

“Saya baru menerima bantuan uang dari Gubernur Jawa Barat sebesar Rp10 juta. Untuk bantuan pakaian dari donasi Alhamdulillah banyak. Namun, bantuan uang dari pemerintah desa sampai sekarang belum ada. Kalau dari donatur yang datang langsung, Alhamdulillah ada, di luar pemerintah desa dan Pemkab Bandung Barat,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa warga hanya mendengar adanya bantuan dari berbagai pihak, namun belum merasakannya secara langsung.

“Kami dengar ada bantuan dari berbagai pihak, seperti Wakil Presiden dan Raffi Ahmad. Tapi sampai sekarang belum ada yang kami terima. Kami berharap ada kejelasan,” tambahnya.

Di sisi lain, salah satu tokoh masyarakat Kampung Pasirkuning yang juga terdampak menyampaikan bahwa informasi bantuan memang sempat ramai beredar di media sosial hingga televisi nasional. Namun, realisasi di lapangan belum dirasakan secara merata oleh para korban.

“Kalau bantuan dari Bapak Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, sudah diterima oleh masyarakat. Nuhun Pak Dedi, terima kasih,” ungkapnya.

Bencana longsor yang melanda wilayah Pasirlangu sebelumnya menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga serta mengganggu aktivitas masyarakat.
Selain itu, warga juga mengaku belum mendapatkan kejelasan terkait rencana relokasi.

“Terkait relokasi, kami belum menerima informasi lebih lanjut. Kami berharap pemerintah setempat dan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat segera memberikan kejelasan. Kami yang terdampak sangat membutuhkan kepastian,” ujar tokoh masyarakat tersebut.

Masyarakat berharap pemerintah dan pihak-pihak yang telah menjanjikan bantuan dapat segera memastikan distribusi bantuan berjalan secara merata, transparan, dan tepat sasaran.

Sementara itu, pihak terkait diharapkan segera memberikan klarifikasi agar tidak menimbulkan keresahan berkepanjangan di tengah masyarakat. ***Red
Share:

Potret Nyata Kemiskinan Di Balik Gemerlap Sorotan Kepada Sang Pemimpin Dan Para Dermawan

Cianjur, kabarciepat.com – Di tengah derasnya narasi dan gembar-gembor tentang keberpihakan program bantuan pemerintah kepada masyarakat kecil, realita di lapangan menghadirkan cerita yang tak semanis laporan di atas kertas.

 Di sebuah kampung bernama Kp Cisaat, RT 01/08, Desa Sabandar, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, seorang warga bernama Nanang (45) menjalani hari-harinya dalam kondisi yang jauh dari kata layak.

Rumah yang ia tempati bersama keluarga kecilnya kini berdiri dalam kondisi memprihatinkan padahal berada di daerah yang terbilang ramai penduduk. Atap yang bocor di hampir seluruh bagian, dinding yang mulai rapuh, serta struktur bangunan yang sangat lapuk menjadikan tempat tinggal itu lebih mirip ancaman daripada perlindungan.

Ironisnya, kondisi ini berlangsung di tengah gencarnya berbagai program bantuan yang disebut-sebut menyasar masyarakat kurang mampu,mulai dari program bedah rumah ala bos rumah makan khas sunda dan program bantuan rutilahu dari pemerintah daerah.
.        foto istimewa: keadaan dilokasi

Memasuki musim penghujan, situasi berubah dari sekadar sulit menjadi sangat mengkhawatirkan.

Air hujan tak lagi sekedar menetes, melainkan masuk dari berbagai celah, menggenangi bagian dalam rumah dan memaksa penghuninya beradaptasi dengan keadaan yang seharusnya tidak layak  untuk di tempati.

Saat ditemui pada Minggu (12/4/2026) Nanang penghuni tempat tersebut berbicara dengan nada lirih antara pasrah dan kecewa. Kalimat-kalimat yang ia sampaikan sederhana, namun menyimpan beban yang tak ringan.
“Ya gimana Pak, kondisi begini… makan saja kadang kurang layak."

"Rumah juga seperti ini, bocor di mana-mana. Katanya ada program bantuan, tapi sampai sekarang belum terasa. Jawabannya selalu soal rezeki saja,” ujarnya.
Ungkapan itu seolah menjadi potret kecil dari jurang antara harapan dan kenyataan.

Di satu sisi, program bantuan terus digaungkan sebagai solusi. Di sisi lain, warga seperti Nanang masih bergulat dengan persoalan paling dasar, atap yang tidak lagi mampu menahan hujan.

Menurut penuturannya, kondisi rumah tersebut sebenarnya sudah lama mengalami kerusakan. Namun, seiring waktu dan minimnya kemampuan untuk memperbaiki, kerusakan itu kian parah. Kini, setiap hujan turun, keluarga ini harus bersiap menghadapi air yang masuk tanpa bisa dicegah.

“Kalau hujan, pasti bocor semua. Sudah tidak bisa diperbaiki sendiri. Takutnya malah roboh,” lanjutnya, dengan kekhawatiran yang terasa nyata.
Kondisi ini bukan hanya persoalan fisik bangunan, tetapi juga menyentuh aspek psikologis. Hidup dalam ketidakpastian di bawah atap yang sewaktu-waktu bisa runtuh jelas bukan hal yang mudah, terlebih bagi keluarga yang memiliki anak-anak.

Nanang tinggal bersama istri dan anak-anaknya, termasuk seorang anak yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP dan seorang balita berusia 3 tahun. Dalam situasi seperti ini, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru berubah menjadi sumber kecemasan setiap kali langit mulai gelap.

Harapan pun sebenarnya tidak muluk. Nanang hanya ingin ada perhatian nyata bukan sekadar janji atau proses yang tak kunjung selesai. Ia meyakini bahwa kondisi seperti yang ia alami seharusnya menjadi prioritas dalam program bantuan sosial, khususnya perbaikan rumah tidak layak huni.

“Harapannya ya ada yang melihat langsung kondisi kami. Jangan hanya yang mampu saja yang dibangun. Kami yang benar-benar butuh justru seperti tidak terlihat,” tuturnya.

Pernyataan ini terdengar sederhana, tetapi mengandung kritik yang cukup tajam. Sebab di tengah banyaknya program yang diklaim tepat sasaran, masih ada warga yang merasa luput dari perhatian. Bukan karena tidak layak dibantu, melainkan karena mungkin belum cukup terlihat.

Sementara itu, Kepala Desa Sabandar, Dedi Saepudin, saat dikonfirmasi memberikan tanggapan singkat. Ia menyebut bahwa bantuan untuk Nanang saat ini masih dalam proses pengajuan.
“Belum ada bantuannya, sedang diperjuangkan,” katanya.

Namun, jawaban tersebut justru memunculkan pertanyaan yang sulit dihindari. Di tengah kondisi rumah yang sudah berada di ambang keruntuhan, seberapa lama lagi proses itu harus berjalan? Dan yang lebih penting, apakah waktu yang dibutuhkan masih sebanding dengan risiko yang dihadapi?

Sebab dalam situasi seperti ini, keterlambatan bukan sekadar soal administrasi melainkan soal keselamatan. Ketika hujan turun deras dan angin bertiup kencang, ancaman itu menjadi semakin nyata, tidak lagi bisa ditunda atau dinegosiasikan.

Kisah Nanang menjadi ironi yang sulit dipungkiri. Di satu sisi, berbagai program bantuan terus diklaim berjalan dan memberikan dampak positif. Namun di sisi lain, masih ada warga yang bertahan dalam kondisi yang jauh dari layak, seolah menunggu giliran dalam antrean panjang yang tak jelas ujungnya.

Pertanyaannya pun mengemuka dengan sendirinya: sampai kapan warga kecil seperti Nanang harus menunggu? Apakah bantuan akan datang tepat waktu, atau justru setelah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi?

Lebih jauh, kondisi ini juga menjadi cermin bagi sistem yang ada. Bahwa keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah realisasi atau laporan administratif, tetapi dari seberapa nyata dampaknya dirasakan oleh mereka yang paling membutuhkan.

Hari ini, Nanang dan keluarganya masih bertahan. Di bawah atap yang bocor, di dalam rumah yang rapuh, mereka terus menjalani kehidupan dengan harapan yang belum padam.

Harapan bahwa suatu hari nanti, bantuan yang selama ini hanya terdengar sebagai wacana benar-benar hadir dalam bentuk nyata.

Sebab bagi mereka, rumah bukan sekadar bangunan. Ia adalah satu-satunya tempat berlindung dari hujan, dari panas, dan dari kerasnya kehidupan yang tak selalu berpihak.

Dan ketika tempat berlindung itu sendiri tak lagi mampu melindungi, maka yang tersisa hanyalah satu pertanyaan sederhana yang sayangnya belum juga menemukan jawaban. ***Farell
Share:

Sabtu, 11 April 2026

Geger!Penemuan Mayat Di Perkebunan Teh Sukanagara Cainjur Selatan

Cianjur, kabarciepat.com – Warga Kecamatan Sukanagara digegerkan dengan penemuan mayat di perkebunan teh, sekitar jam 08.30 wib, oleh warga sekitar. Kepala Desa Sukanagara Wawan Ridwansyah saat dikonfirmasi mengatakan bahwa mayat laki laki tersebut merupakan warga Kp. Langensari RT 05/05 Desa Sukanagara Kecamatan Sukanagara Kabupaten Cianjur, dan memang suka berburu babi hutan, ungkap Wawan.

"Korban bernama Ade Suhaya alias Ade Dingklik (57) dan sudah biasa berburu babi hutan, yang merupakan warga kami," Jumat (10/4/2026).

Sementara itu Kapolsek Sukanagara AKP Dedi saat dikonfirmasi memaparkan, olah tempat kejadian perkara sudah dilakukan, sekitar jam 09.00 dan langsung memasang garis polisi, hal ini dilakukan untuk mengamankan TKP dan menjaga barang bukti yang terdapat di TKP, ungkap Dedi.

" TKP berada di Perkebunan PTPN Pasirnangka Blok Batubedug PAN 3 Kp. Langensari 2 RT 10/05 Desa Sukanagara Kecamatan Sukanagara Kabupaten Cianjur, dan untuk lebih pasti serta akurasinya kejadian ini, kita sedang menunggu Tim Inafis dari Polres Cianjur," tambah Dedi.

Masih Sambung Dedi
" Korban diduga sebagai pemburu dengan membawa Senjata Api Rakitan Jenis Cuplis atau Dorlok. Kondisi korban mengalami luka di dahi yang tembus ke bagian belakang kepala di duga terjadi kecelakaan saat mengisi peluru secara manual dengan di colok dan meletus mengenai kepala sendiri," ungkapnya.

Untuk memastikan korban sudah meninggal atau belum, Tim Kesehatan dari Puskesmas Sukanagara Hambali Lebar melakukan pemeriksaan, dan hasil dari pemeriksaan bahwa korban sudah meninggal dunia lebih dari 12 jam.

" Luka dibagian dahi yang tembus kebelakang, diduga kuat sebagai penyebab kematiannya," jelas Hambali.

" Korban diduga sudah meninggal dunia lebih dari dua belas jam, dilihat dari kondisi kekakuan tubuhnya," tutup Hambali. ***Yudi Farrell
Share:

Kolaborasi Hijau ke-66: Merawat Alam, Merawat Kehidupan di Gunung Congkrang

Garut, kabarciepat.com – Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui aksi Kolaborasi Hijau ke-66 yang digelar di Blok Gunung Congkrang, Sabtu (11/04/2026). Mengusung tema “Merawat Alam, Merawat Kehidupan”, kegiatan ini difokuskan pada pemeliharaan tanaman serta penanaman pohon sebagai bagian dari upaya berkelanjutan memulihkan ekosistem.

Dalam aksi tersebut, para pengurus melakukan pemeliharaan area tanam sekaligus menanam dua pohon beringin, pohon liat, serta berbagai jenis tanaman buah-buahan. Penanaman ini tidak hanya bertujuan untuk penghijauan, tetapi juga sebagai langkah jangka panjang dalam menciptakan keseimbangan ekosistem dan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Kegiatan Kolaborasi Hijau ke-66 ini masih dilaksanakan oleh jajaran pengurus Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut. Aksi dipimpin langsung oleh Ketua Paguyuban, H. Jaeni, didampingi Sekretaris Paguyuban Cepi Gantina, serta jajaran pengurus lainnya yang turut terlibat aktif dalam setiap proses kegiatan.

Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, H. Jaeni, menegaskan bahwa konsistensi dalam merawat tanaman menjadi kunci utama keberhasilan penghijauan.
“Merawat alam bukan hanya tentang menanam, tetapi bagaimana kita memastikan tanaman itu tumbuh, hidup, dan memberi manfaat. Ini adalah tanggung jawab bersama yang harus terus kita jaga,” ujarnya.

Melalui aksi ini, Kolaborasi Hijau kembali mengingatkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari menjaga kehidupan itu sendiri. Setiap pohon yang ditanam dan dirawat menjadi simbol harapan, bahwa dari Gunung Congkrang, akan tumbuh masa depan yang lebih hijau, lestari, dan berkelanjutan. ***Yudi Farell
Share:

Jumat, 10 April 2026

Jalan Licin Dipenuhi Tanah Berceceran, Proyek Galian Picu Bahaya Laka Terutama Pengendara Roda Dua

kabarciepat.com, Cianjur – Aktivitas proyek galian tanah desa di Desa Bobojong menuai keluhan warga. Lalu lalang truk pengangkut tanah dinilai tidak sesuai dengan kapasitas jalan desa. Saat hujan turun, ceceran tanah membuat badan jalan licin dan berlumpur, meningkatkan risiko kecelakaan terutama bagi pengendara roda dua.

Warga menyebut, truk kerap melintas tanpa penutup muatan (terpal) sehingga tanah berjatuhan di sepanjang jalan. Kondisi ini bukan hanya mengganggu ketertiban umum, tetapi juga membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Mengacu pada Perda Kabupaten Cianjur Nomor 07 Tahun 2012 tentang Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan yang berkaitan dengan dampak lingkungan, pengangkutan material seperti tanah semestinya memperhatikan ketentuan ketertiban umum dan lalu lintas daerah. Di antaranya kewajiban menutup muatan, pengaturan jam operasional, serta pembersihan jalan dari ceceran material. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat dikenai sanksi denda hingga penghentian kegiatan.

Kepala Desa Bobojong, Suwandi, saat dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari rencana penataan lapangan bola yang telah diusulkan dalam Musrenbang RPJMDes.

“Terkait lapangan bola, itu sudah masuk dalam usulan saat Musrenbang RPJMDes. Posisi lapangan yang sebelumnya lebih tinggi sengaja diturunkan agar lebih ideal. Karena keterbatasan anggaran dan ada pihak yang membutuhkan tanah untuk urugan, maka tanah tersebut dimanfaatkan. Jika desa yang harus mengeruk sendiri, kami terkendala biaya,” jelasnya.

Sementara itu, Dedi, warga yang mengaku sempat terjatuh saat melintas di lokasi, menyampaikan kekecewaannya. Ia terpeleset akibat tanah yang berceceran di badan jalan dan harus dibantu warga sekitar.

“Ceceran tanah di jalan akibat aktivitas ini sangat mengganggu. Kendaraan besar lewat di jalan sempit seperti ini jelas membahayakan,” ujarnya.

Ia berharap ada tindakan tegas dari pihak terkait untuk mengatur aktivitas proyek agar tidak merugikan masyarakat luas, khususnya pengguna jalan yang setiap hari melintas.

Warga menilai, jalan desa yang sempit tidak dirancang untuk dilalui kendaraan bertonase besar. Selain berpotensi merusak infrastruktur jalan, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengguna jalan lainnya. ***Yudi Farrell
Share:

Sidak Random Waka BGN di Bandung Barat–Cimahi, Sejumlah Dapur MBG Tak Layak Beroperasi sebagai SPPG

kabarciepat.com Bandung Barat – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik, menemukan sejumlah bangunan yang dinilai tidak layak dijadikan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) secara acak di Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi, Selasa malam (7/4/2026).

Temuan itu diungkapkan Nanik dalam agenda pengarahan dan evaluasi kepada Kasatpel, Pengawas Gizi, dan Juru Masak se-Provinsi Jawa Barat di Bandung Barat, Rabu (8/4/2026).

“Semalam saya menemukan dapur-dapur MBG di Bandung Barat dan Cimahi yang tidak layak, tapi sudah lama beroperasi sebagai SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi),” ujar Nanik.

SPPG Tani Mulya 3 Disorot

Salah satu yang disorot adalah SPPG Tani Mulya 3 di Kecamatan Ngamprah. Dapur MBG tersebut disebut dialihfungsikan dari rumah tiga tingkat ke bawah. Lantai paling bawah dipakai untuk akses masuk dan persiapan bahan baku, lantai kedua untuk memasak, dan lantai paling atas untuk pemorsian.

“Dapurnya seperti goa ke bawah, dihubungkan tangga terjal tanpa pegangan,” ungkapnya.

Menurut Nanik, kondisi tersebut janggal karena pada awal pelaksanaan program MBG, standar dapur sangat ketat. Perbedaan tinggi lantai 10 cm saja, kata dia, sebelumnya tidak diperbolehkan.
“Mengapa yang seperti ini bisa lolos?” tegasnya.

Dapur Sempit, Kotor, dan Tak Sesuai Alur Higienitas

Selain di Ngamprah, Nanik juga menemukan dapur serupa di wilayah Colameng (Ngamprah) dan dua lokasi di Citeureup, Cimahi. Ketiganya merupakan rumah warga seluas sekitar 150 meter persegi yang dialihfungsikan menjadi dapur SPPG.

Akibat keterbatasan ruang dan mengikuti struktur rumah, sejumlah persoalan krusial muncul:

Ruang pemorsian sempit dan tidak memadai

Tidak tersedia gudang peralatan dan gudang ompreng

Area pencucian bahan pangan bercampur
Jalur masuk bahan pangan, ompreng kotor, dan keluarnya makanan jadi melalui pintu yang sama

Kondisi ini dinilai melanggar prinsip dasar higienitas dan alur kerja dapur layanan gizi.

Bahkan, karena tidak ada ruang tersisa, loker relawan dibuat seadanya. Sementara Kepala SPPG, Pengawas Gizi, dan Pengawas Keuangan tidak memiliki ruang istirahat di lokasi dan harus menyewa kamar kost di luar dapur.

“Ini yang kemudian menjadi alasan mengapa pengawasan tidak maksimal saat proses memasak berlangsung,” kata Nanik.

Kualitas Dapur Akan Jadi Penilaian Insentif

Nanik menegaskan, mulai 2026, kualitas pelayanan MBG tidak hanya dinilai dari kualitas makanan dan SDM, tetapi juga dari kualitas fisik dapur.

Selama ini, seluruh dapur disebut menerima insentif rata-rata Rp6 juta tanpa melihat kelayakan fasilitas. Ke depan, skema insentif akan disesuaikan dengan luas dan kualitas dapur.

“Masa dapur bagus 400 meter persegi disamakan dengan dapur yang sempit dan jorok,” tegasnya.

BGN berharap temuan ini menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh pengelola SPPG agar standar kelayakan dapur benar-benar dipenuhi demi menjamin keamanan dan kualitas pangan bagi para penerima manfaat program MBG. ***Red
Share:

Program PTSL ATR/BPN Di Cianjur Akan Mencapai Finish Pada April Tahun Ini

Cianjur, kabarciepat.com. – Kuota sertifikat pendaftaran tanah sistematis lengkap (PTSL) di Kabupaten Cianjur, tahun ini sebanyak 22 ribu. Hingga bulan April. Kantor Pertanahan Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) saat ini telah menyelesaikan sekitar 16 ribu.

Menurut Kepala Kantor Pertanahan ATR/BPN Kabupaten Cianjur, Ara Komara Sujana, mengatakan, jumlah sertifikasi sertipikat PTSL yang belum selesai secara hitung-hitungan
tinggal sedikit saja. Sehingga, pada bulan ini program PTSL di Kabupaten Cianjur bisa saja dituntaskan.

"Kalau mau diselesaikan, bulan ini juga bisa kami selesaikan," kata Ara, Jumat (10/4).
 
Dibanding daerah lain, sambung Ara, pelaksanaan sertifikasi PTSL di Kabupaten Cianjur terbilang lebih cepat. Sebab, di daerah lain ada yang masih tahap persiapan.

"Di daerah lain itu ada yang baru pelantikan tim. Sedangkan kita sudah menyelesaikan hampir 16 ribu," tuturnya.

Ara menyebutkan, program PTSL tahun ini relatif berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya. Pada tahun ini mulai dilaksanakan Integrated Land Administration and Spatial Planning Project (ILASPP) atau pengukuran tanah yang dilakukan secara lengkap. 

Pelaksana pengukuran lengkap dilakukan pihak ketiga yang telah ditetapkan pemerintah pusat melalui Kementerian ATR/BPN. Pengukuran dilaksanakan pada 2025 dan tahun ini mulai dilakukan proses sertifikasi.

"Tahun ini, ILASPP di Kabupaten Cianjur dilaksanakan di Kecamatan Cibinong tersebar di 14 desa. Ada sebanyak 72 ribu bidang tanah," terangnya.
Kantor Pertanahan ATR/BPN Kabupaten Cianjur mengusulkan kembali ILASPP. Saat ini tahapannya pada proses pengurusan.

"Kita masih kebagian sekitar 3 ribu hektare untuk ILASPP yang merupakan sisa 2025," ungkap Ara.

Ara juga menyebutkan, desa-desa yang belum mendapatkan program PTSL sudah mulai mengajukan. Namun, kata Ara, pengajuannya masih terkendala teknis pengukuran.

"Paling nanti yang masuk (pengajuan PTSL) itu kami akan alokasikan dulu ILASPP-nya," tutupnya. ***Farrell
Share:

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 syawal 1447 H

https://www.blogger.com/u/0/blog/page/edit/9036554561978506067/3111317229885343532#

bener iklan

Umroh Plus Dubai Turki hanya 35 Juta

Umroh Plus Dubai Turki hanya 35 Juta
‎“Daftar sekarang, wujudkan niat suci bersama Sahara Grup!”  hubungi kami : https://wa.me/082126195038 IBU Dewi ‎https://wa.me/083865159313 BPK Riki ‎#HajiUmroh ‎#SaharaGrup ‎#PerjalananSuci ‎#TravelHaji ‎#UmrohBersama ‎#HajiMabrur

Trevel Sahara Grup

Trevel Sahara Grup
- “Tanah Suci menanti, Sahara Grup siap menemani. Mari wujudkan niat suci dengan langkah pasti.” - “Ibadah Umroh dan Haji adalah panggilan hati. Sahara Grup membantu Anda menjawab panggilan itu.”

Selamat hari raya idul Fitri 1447 H

https://www.kabarciepat.com/p/selamat-hari-raya-1-syawal-1447-h.html

Blog Archive

Blogger templates

pristiwa